SEJARAH DAN PEREKEMBANGAN ILMU KOMUNIKASI

Berbicara tentang sejarah komunikasi manusia (human communication) sejatinya berbicara mengenai sejarah manusia, mengingat komunikasi ada sejak adanya peradaban manusia di bumi. Secara sederhana saja, dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah alat terpenting untuk manusia berinteraksi dalam statusnya sebagai makhluk sosial. Dengan demikian, sejak awal kehadirannya di bumi, manusia telah berkomunikasi meski dengan cara yang sangat sederhana.

Bahasa adalah “media” yang paling sederhana untuk manusia berkomunikasi, yang menurut para ahli bahasa telah ada sejak awal peradaban manusia. Jean-Louis Dessalles (2007 : 2), menyatakan bahwa bahasa, dengan segala kecenderungan biologisnya, adalah hasil yang tak terelakkan dari proses evolusi yang dimulai dari amuba dan berakhir dengan manusia. Ini berarti bahwa bahasa adalah perilaku yang menyerupai sistem komunikasi lainnya yang digunakan oleh hewan namun manusia memiliki bahasa yang jauh lebih rumit. Dalam pandangan ini, menurut Desalles, bahasa bersifat sangat alamiah (natural) dan penting, dan merupakan aset luar biasa yang telah memberikan manusia kekuasaan atas alam. Bahasa juga memungkinkan manusia untuk berbagi tidak hanya sumber daya kita namun juga pemikiran. Sehingga sebuah pandangan yang tidak terelakkan dalam hal ini adalah bahwa bahasa, sebagai alat komunikasi, menjadi sangat esensial dalam kehidupan manusia, bukan hanya karena sifatnya yang alamiah dan melekat dalam diri manusia, namun juga fungsinya yang memungkinkannya untuk dapat berinteraksi, bekerjasama dan berbagi gagasan dan pemikiran.

Dari tangisan pertama bayi saat lahir, manusia mulai berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Sebagai bayi yang mulai tumbuh, mereka mulai mengembangkan bentuk komunikasi yang lebih sempurna: yakni bahasa. Bahasa menggunakan suara, simbol atau tanda-tanda untuk membentuk kata-kata. Kata-kata kemudian digabungkan sesuai dengan aturan untuk menjadi kalimat yang bermakna. Pendeketan sistematis ini, menurut Amanda A. Sleeper dalam bukunya “Speech and Languange” (2007 : 1), memungkinkan untuk menghasilkan jumlah ide yang tak terbatas untuk diekspresikan ke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh siapa saja yang berbicara bahasa tersebut. Bentuk komunikasi yang kaya merupakan sesuatu hal yang tak tertandingi oleh spesies lain di bumi. Bahasa adalah dasar dari bagaimana berinteraksi satu sama lain dan juga dengan lingkungan sekitar. Kita juga menggunakan bahasa untuk memahami dan belajar mengenai dunia. Tanpa bahasa, mungkin akan mustahil bagi manusia untuk mengembangkan peradaban yang lebih maju. Hilangnya kemampuan bahasa pada seseorang, dapat menghancurkan, dan mengganggu kemampuan individu untuk berpartisipasi dalam masyarakat.

Sedemikian pentingnya, komunikasi bahkan terjadi didalam tubuh; menurut para ahli, sel-sel kita memiliki kode komunikasi yang secara bertahap datang terhadap cahaya. Sel-sel dalam sistem kekebalan tubuh kita, misalnya, mengenali satu sama lain dan dapat merekrut sel-sel lain untuk membantu mempertahankan diri dari invasi antigen. Fenomena tersebut berfungsi melalu sistem transmisi informasi yang dalam beberapa hal menyerupai bahasa. Sebagai contoh, lymphocytes (sel darah putih) mengenali sel-sel tubuh kita sendiri dari molekul tertentu pada permukaan mereka, ketika tanda tersebut tidak ada, lymphocytes menghasilkan sekresi yang memperingatkan sel-sel lain dalam sistem kekebalan tubuh kita. (Lihat Delles, 2007 : 5).

Komunikasi juga terjadi pada beberapa hewan, dengan kompleksitas yang jauh lebih sederhana dibanding komunikasi manusia. Pada tahun 1940, semua orang terkejut ketika Karl Von Frisch menerbitkan pengamatannya pada ‘bahasa ‘lebah’. Dan diketahui bahwa lebah madu (apis mellifera) memiliki kemampuan untuk menginformasikan perempuan lain di sarang mereka dari lokasi sumber makanan. Meskipun tidak diketahui jenis informasi yang digunakan, namun demikian mereka menggunakan kode yang tepat untuk menyampaikan informasi.

Contoh lain dari komunikasi binatang yang juga sering dipelajari oleh para ahli adalah tanda panggilan (alarm) vervet – sejenis monyet Afrika. Monyet-monyet kecil ini memiliki berbagai variasi teriakan yang mereka gunakan untuk memperingati dari predator yang mendekat. Arti dari alarm tersebut sangat tepat, sebagaimana ditunjukkan dalam percobaan menggunakan alat perekam. Ketika seekor monyet menangis itu menunjukkan predator yang semakin mendekat. Reaksi yang mereka lakukan bervariasi; jika berkaitan dengan peringatan terhadap elang, mereka berlindung; jika itu menyangkut ular, mereka menegakkan tubuh dan memindai rumput dengan memutari rumput sekitar, dan jika itu berkaitan dengan macan tutul, mereka naik ke atas pohon untuk berlindung.

Hewan mungkin saja berkomunikasi dengan sesamanya, namun menurut Dedy Mulyana (2005 : 42) prosesnya dan mekanismenya berbeda dengan komunikasi manusia. Bahkan, menurut Mulyana, manusia berbagi tanda dengan hewan: banyak refleks sederhana, beberapa bentuk ritual dan beberapa artefak atau “invensi” yang kompleks. Misalnya, seorang wanita menunjukkan wajah merah karena malu dan mengenakan busana dengan gaya mutakhir, tetapi hewan dan burung pun menampilkan guratan-guratan berwarna. Namun melalui bahasa, sesungguhnya manusia dapat lebih jauh mengungkapkan dirinya, atau memberi alasan, berargurmen, atau menyatakan perasaannya. Sebagaimana juga dikatakan oleh James R. Hurford dalam artikelnya The Evolution of Human Communication and Languange (2008 : 264) “Although every communication system can claim in some way to be unique, human language is spectacularly unique in its complexity and expressive power”.

Namun demikian, berbeda dengan komunikasi manusia yang sangat kompleks dan rumit, komunikasi hewan sangat sederhana, ditandai dengan tindakan-tindakan yang bersifat refleks. Mereka tidak dapat menafsirkan perilaku hewan lain, karena mereka tidak memiliki dan tidak berbagi isyarat simbolik, apalagi memodifikasi perilaku mereka untuk menyesuaikan diri dengan perilaku hewan lain. Dalam “komunikasi” antar anjing, misalnya, perilaku seekor anjing menjadi stimulus bagi anjing lainnya untuk memberikan respons. Anjing merespons satu sama lainnya dengan menggonggong, menggeram, menyerang, dan sebagainya. Setiap isyarat membangkitkan isyarat tandingan yang otomatis dan langsung oleh anjing lainnya. Pertukaran isyarat ini bersifat instingtif dan tidak reflektif, tanpa menyadari dan memastikan bukan hanya makna, motif dan maksud isyarat sendiri. Dengan kata lain, dua ekor anjing dapat saling menggonggong, namun sangat diragukan apakah anjing-anjing itu dapat “berpikir” tentang akibatnya. Juga sangat diragukan apakah anjing-anjing itu menggunakan simbol-simbol tertentu yang maknanya mereka setujui bersama seperti pada manusia (lihat Dedy Mulyana, 2005 : 43). Charles F. Hockett, seorang ahli linguistik, menyatakan bahwa “Man is the only animal that can communicate by means of abstract symbols. Yet this ability shares many features with communication in other animals, and has arisen from these more primitive systems”

Jika bahasa adalah alat pertama yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi, sejak kapan bahasa digunakan sebagai alat komunikasi? bagaimanakah asal-usul bahasa dalam kehidupan manusia? Bagaimanakah manusia-manusia awal belajar bahasa?

Asal usul bahasa dalam spesies manusia telah menjadi topik diskusi ilmiah selama beberapa abad. Meskipun demikian, tidak ada konsensus tentang kapan bahasa muncul dan menjadi sebuah “media” manusia dalam berkomunikasi. Satu masalah yang membuat topik ini sulit untuk dipelajari adalah kurangnya bukti langsung. Akibatnya, para sarjana yang ingin belajar asal-usul bahasa harus menarik kesimpulan dari jenis bukti yang lain, seperti: catatan fosil (the fossil record) atau dari bukti arkeologi, dari keanekaragaman bahasa kontemporer, dari penelitian terhadap penguasaan bahasa, dan dari perbandingan antara bahasa manusia dan sistem komunikasi yang ada di antara hewan lain, khususnya primata lainnya. Hal ini umumnya disepakati bahwa asal-usul bahasa terkait erat dengan asal-usul perilaku manusia modern, tapi ada sedikit kesepakatan tentang implikasi dan Pemusatan dari hubungan ini. (Lihat en.wikipedia.org)

Adalah hal yang sangat sulit untuk menentukan dan mencari bukti-bukti ilmiah (scientific evidence) mengenai asal-usul bahasa dalam spesies manusia. Amanda A. Sleeper (2007 : 1) menyatakan bahwa asal-usul bahasa tetap menjadi misteri. Kemampuan otak untuk mengembangkan dan mengkoordinasikan kompleksitas bahasa, menurut Sleeper, juga masih menjadi misteri. Para ilmuwan memperdebatkan bagaimana otak mampu menguasai bahasa. Sebagai sebuah teknik ilmiah yang lebih maju, para ilmuwan mulai berupaya untuk memahami daerah otak yang berpartisipasi yang berpartisipasi dalam mengkoordinasikan bahasa. Penelitian linguistik, dikombinasikan dengan studi neurologis, telah menetapkan bahwa ucapan manusia sangat tergantung pada jaringan saraf yang terletak di lokasi tertentu dalam otak. Ini pengaturan yang rumit dari neuron, dan komponen anatomi yang diperlukan untuk sebuah wicara (speech), tidak dapat dikurangi sedemikian rupa bahwa seseorang dapat menghasilkan sebuah “transisi” bentuk komunikasi. Bukti meyakinkan menyiratkan bahwa manusia diciptakan dengan kemampuan yang unik untuk menggunakan bahasa untuk komunikasi.

Anak-anak memiliki kemampuan untuk mengembangkan bahasa dengan kecepatan luar biasa. Bahasa mulai keluar sebagai tangisan sederhana dan berbisik, kemudian berkembang menjadi ocehan (babble), dan kemudian berkembang menjadi kata-kata, frase, dan ahirnya menjadi kalimat utuh dan terus meningkatkan akurasi dan kompleksitas gramatikal. Anak-anak belajar sesuai dengan kemampuan mereka sendiri, beberapa anak, bahkan mengembangkan ketrampilan verbal yang lebih cepat dibanding yang lain. Namun, semua anak melewati tahapan kemampuan bahasa yang sama (Amanda A. Sleeper, 2007 : 4).
Berteori mengenai asal-usul bahasa sangatlah spekulatif. Karena sifatnya yang spekulatif, menurut Komaruddin Hidayat (2003 : 35), maka teori mengenai asal-usul bahasa telah berkembang sedemikian rupa sejak dari yang bersifat ilmiah, ideologis-rasialis, sampai yang bernada mitos dan main-main. Namun demikian, secara garis besar, menurut Hidayat, terdapat tiga teori mengenai hal ini, yaitu : teologis, nanturalis, dan konvensionalis. Pendukung aliran teologis mengatakan bahwa manusia bisa berbahasa karena anugerah Tuhan yang, pada awalnya, diajarkan pada Adam, nenek moyang seluruh manusia. Pendapat ini biasanya dicarikan pembenarannya dari cerita Bibel atau Al-Quran mengenai kehidupan Adam di surga dan dialognya dengan Tuhan. Bahkan secara eksplisit, Al-Quran menyebutkan bahwa Tuhan telah mengajari Adam nama-nama benda yang ada disekelilingnya.

Sementara itu, teori kedua, menurut Hidayat, adalah Naturalis, yang beranggapan bahwa kemampuan manusia berbahasa merupakan bawaan alam, sebagaimana kemampuan untuk melihat, mendengar, maupun berjalan. Dalam kaitan ini, terdapat sebuah legenda Mesir Kuno yang terkenal di kalangan sarjana linguistik. Bangsa Mesir yang merasa peradaban mereka paling tua di dunia berpandangan bahwa bahasa Phyrgian adalah bahasa yang tertua. Legenda ini bersumber dari pada sebuah cerita mengenai Psammatichus, raja Mesir Kuno yang berkuasa sekitar 600 sm, dia melakukan eksperimentasi terhadap dua bayi yang baru saja yang dilahirkan. Menurut cerita, dua bayi tadi dititipkan kepada seorang pengasuh, dengan syarat harus dijaga baik-baik, tetapi tidak boleh diajak berbicara sepatah katapun. Alasannya, Raja ingin tahu ucapan apa yang keluar pertama kali dari seorang bayi yang tidak mengenal pengajaran bahasa. Demikianlah, suatu saat salah satu dari itu mengucapkan kata “bekos” yang ternyata dalam bahasa Phyrgian berarti roti. Sejak itu, raja Psammatichus membuat maklumat bahwa bahasa alami yang paling tua adalah bahasa Phyrgian (lihat Hidayat, 2003 : 36)

Teori ketiga, disebut sebagai Konvensionalis, yang menurut Hidayat (2003 : 37), berpandangan bahwa bahasa pada awalnya muncul sebagai produk sosial. Ia merupakan hasil konvensi sosial yang disepakati dan kemudia dilestarikan bersama-sama secara turun-temurun. Salah satu bentuk konvensi yang terkenal, menurut Hidayat, adalah yo-he-ho therory. Pandangan ini didasarkan pada argumen dan pengamatan empiris dari suatu proses sosial ketika masyarakat primitif melakukan kerja gotong-royong. Ketika mereka beramai-ramai menarik pohon besar atau bersiap melawan serangan musuh, pada saat itu muncul ungkapan bahasa ekspresif dan berfungsi menyamakan langkah. Karena bahasa adalah hasil konvensi, menurut teori ini, maka setiap masyarakat atau bangsa memiliki bahasa tersendiri dan bahkan bisa menciptakan bahasa yang baru.

Namun demikian, secara umum, berbicara mengenai asal-usul bahasa dalam spesies manusia pada akhirnya membawa kita pada perdebatan klasik mengenai perspektif Nature dan Nurture, Amanda A. Sleeper menyebutnya sebagai “The Nature Versus Nurture Debate of Language”. Perspektif Nature berpendapat bahwa ketrampilan manusia dalam berbahasa merupakan sesuatu bawaan sejak manusia dilahirkan, sementara perspektif Nurture berpendapat bahwa kemampuan manusia dalam berbahasa merupakan sesuatu yang dipelajari, dan merupakan hasil interaksi dengan lingkungan. Perdebatan ini sebenarnya berawal dari upaya para ilmuan untuk menguak misteri otak manusia, dengan mengusulkan gagasan mengenai kapasitas bahasa yang ada di otak manusia sejak lahir. Dari sinilah munculnya perdebatan itu, gagasan mengenai “an innate language template” pada otak manusia menjadi kontroversial, mereka yang menerima konsep ini berada pada sisi “nature”. Sementara yang lain percaya bahwa kemampuan bahasa merupakan hasil belajar dari pemaparan (exposure) dan pengalaman dan tidak membutuhkan untuk mengatribusikan “innate brain”, kelompok yang mendukung gagasan ini berada pada sisi “nurture”.

Meskipun sebagian ahli mengatakan bahwa sejak awal kemunculannya dibumi, manusia telah melakukan komunikasi, baik untuk berinteraksi dengan sesamanya atau untuk mempelajari lingkungan sekitarnya, namun pada saat itu komunikasi belum menjadi suatu hal yang penting dan menarik untuk dipelajari atau menjadi bahan kajian. Manusia-manusia generasi awal, mungkin hanya berkomunikasi sebagai bagian dari naluri alamiahnya untuk berinteraksi dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka belum menganggap bahwa komunikasi itu “penting” dan karena itu harus dipelajari untuk membuat komunikasi mereka menjadi efektif.

Sebagaimana dikatakan oleh Ruben dan Stewart (2006 : 21) bahwa sangat sulit untuk menentukan secara tepat kapan dan bagaimana komunikasi dianggap sebagai faktor yang signifikan dalam kehidupan manusia (human life). Para sejarahwan mengatakan , pada abad ke sebelum masehi di era Babylonia klasik dan pada tulisan-tulisan Mesir (egyptian writings) sudah mulai terlihat perhatian yang cukup besar tentang komunikasi dan perannya dalam kehidupan manusia. Sebuah esai yang ditulis sekitar tahun 3000 sm memberikan nasihat tentang bagaimana berkomunikasi secara efektif, sedangkan The Precepets, yang disusun di Mesir tahun 2675 sm memberikan pedoman tentang komunikasi efektif. Salah satu pernyataan sejarah yang paling terkenal mengenai pentingnya komunikasi tercantum di dalam Al-Kitab (Bible). Didalam dalam bagian pembukaan perjanjian lama (old testament) yang diucapkan kata yang diucapkan menggambarkan kekuatan yang sangat kuat di mana Tuhan menciptakan dunia – Tuhan berkata, “biarkan Jadilah terang, dan menjadi terang”. Pernyataan ini membawa kekuatan retorika yang cukup besar bagi orang-orang yang berasal berbagai komunitas agama.

Sebagai sebuah bagian dari pengembangan teori yang sistematis, ilmu komunikasi baru dimulai pada zaman Yunani Kuno, sebagaimana juga kebanyakan disiplin lain yang berupaya untuk menjelaskan perilaku manusia dikembangkan pada zaman ini. Minat awal mereka terhadap ilmu komunikasi, menurut Ruben dan Stewart, muncul dari keprihatinan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana kita ketahui, bahwa pada saat itu Yunani memiliki bentuk pemerintahan yang demokratis, dan hampir semua aspek bisnis, pemerintahan, hukum dan pendidikan dilakukan secara lisan. warga Yunani juga harus menjadi pengacara mereka sendiri. Orang-yang menuduh atau dituduh harus meyakinkan para juri untuk memenangkan kasus mereka. Tuntutan hukum menjadi suatu hal yang umum di Athena, dan, sebagai hasilnya, public speaking dalam konteks hukum menjadi sebuah keasyikan.

Pada saat itu Retorika, atau seni persuasi (the art of persuasion), merupakan bagian penting dari setiap diskusi tentang bagaimana menjadi warga negara yang dalam suatu masyarakat demokratis. Tema-tema tulisan mengenai komunikasi di zaman Yunani cenderung fokus pada bagaimana menjadi komunikator yang lebih efektif atau pada bagaimana peran komunikasi dalam masyarakat. Sebuah perdebatan besar terjadi antara filsuf Plato dan muridnya Aristoteles tentang topik ini. Plato berpendapat bahwa retorika itu penting untuk mencapai keindahan dan untuk tujuan hiburan, namun penggunanya harus diabaikan dalam masyarakat karena retorika dapat menyebabkan orang menjauh dari apa yang benar dan menyebabkan mereka untuk membuat keputusan yang buruk. Plato lebih suka metode filosofis yang disebut dialektika, dimana individu dengan seksama mencari kebenaran baru berdasarkan apa yang sudah diketahui. Sementara sang murid, Aristoteles, disisi lain berpendapat bawa retorika adalah hal yang penting untuk membantu mereka dalam masyarakat membuat kemungkinan kebenaran dari apa yang diketahui atau dapat disimpulkan. Retorika, menurut Aristoteles, penting untuk substansi komunikasi serta untuk gaya (style) bagi komunikator (Lihat William F. Eadie, 2009 : 12)

Untuk melacak pertumbuhan dan perkembangan ilmu komunikasi, kita dapat membagi sejarah dan perkembangan ilmu komunikasi menjadi beberapa periodisasi sejarah, yaitu :

1. Periode Retorika
Banyak sarjana melacak bidang studi komunikasi melalui karya kuno retorika – yang mengajarkan seni berbicara dan persuasi. Semua ahli sepakat bahwa kajian ilmu komunikasi awal bermula dari kajian mengenai retorika di era Yunani Kuno. Beberapa filosof besar, seperti Socrates, Plato dan Aristoteles, menjadi tokoh kunci dalam kajian retorika, pada zaman mereka retorika dan filsafat berkaitan dengan argumentasi mengenai kebenaran dan realitas. Retorika mempunyai hubungan yang erat dengan dialektika, suatu metode untuk mencari kebenaran lewat diskusi dan debat.
Sejak awal filsafat menaruh perhatian yang besar terhadap komunikasi, sejak kelompok Sophist yang menjual retorika kepada orang Yunani. Namun demikian, menurut Jalaludin Rakhmat (1993 : 8), Filsafat tidak melihat sebagai alat untuk memperkokoh tujuan kelompok, seperti pandangan sosiologi. Filsafat meneliti komunikasi secara kritis dan dialektis. Filsafat mempersoalkan apakah hakikat manusia komunikan, dan bagaimana ia menggunakan komunikasi untuk berhubungan dengan realitas lain di alam semesta ini; apakah kemampuan berkomunikasi ditentukan oleh sifat-sifat jiwa manusia atau pengalaman; bagaimana proses komunikasi berlangsung sejak kognisi, ke afeksi, sampai perilaku; apakah medium komunikasi merupakan faktor sentral dalam proses penilaian manusia; dan sebagainya.

Seni retorika lahir di pertengahan 400-an SM, dikembangkan oleh orang Syracuse, sebuah koloni Yunani di pulau Sicilia. Pada saat itu, menurut Julia T. Wood (2011 : 25), Sisilia baru saja menggulingkan rezim politik yang menindas dipimpin oleh Thrasybulus, seorang tiran yang telah mengambil tanah mereka dan memiskinkan mereka. Bertahun-tahun koloni itu diperintah oleh para tiran. Tiran, dimanapun dan pada zaman apapun, senang menggusur tanah rakyat. Kira-kira pada tahun 465 SM, rakyat melancarkan revolusi. Setelah melempar Thrasybulus keluar, warga mulai bekerja untuk mendirikan sebuah masyarakat yang demokratis. setelah rezim diktator digulingkan pemerintah mengembalikan lagi tanah pada rakyat kepada pemiliknya yang sah. Namun demikian, untuk mengambil haknya, pemilik tanah harus sanggup meyakinkan dewan juri di pengadilan. Waktu itu tidak ada pengacara dan tidak ada sertifikat tanah. Yang terjadi kemudia, banyak orang yang tidak berhasil memperoleh kembali tanahnya, karena ia tidak pandai bicara. Julia T. Wood (2011 : 25), menceritakan bahwa pada saat itulah muncul Seorang pria bernama Corax, bersama dengan Tisias muridnya, mengajarkan warga bagaimana mengembangkan dan membuat argumentasi yang meyakinkan di pengadilan.

Untuk membantu orang-orang memenangkan hak-haknya di pengadilan, Corax menulis makah retorika, yang diberi nama Techne Logon (seni merangkai kata). Yang ditulis oleh Corax dalam makalahnya lebih berbicara mengenai teknik kemungkinan, yang akhirnya membawa retorika menjadi “ilmu silat lidah”. Namun demikian, dalam makalahnya tersebut, Corax juga meletakkan dasar-dasar pengorganisasian pesan. Ia membagi pidato menjadi lima bagian : pembukaan, uraian, argumen, penjelasan tambahan dan kesimpulan. (Lihat Rakhmat, 2001 : 2-3)

Salah seorang tokoh kunci yang sangat berperan dalam pengembangan retorika adalah Aristoteles (384 sm-322sm), yang menulis buku berjudul De Arte Retorika. Dalam De Arte Retorika, Aristotels menulis :
“Persuasi tercapai karena karakteristik personal pembicara, yang ketika ia menyampaikan pembicaraannya kita menganggapnya dapat dipercaya. Kita lebih penuh dan lebih cepat percaya pada orang-orang baik daripada orang lain. Ini berlaku umumnya pada masalah apa saja dan secara mutlak berlaku ketika tidak mungkin ada kepastian dan pendapat terbagi. Tidak benar anggapan sementara penulis retorika bahwa kebaikan personal yang diungkapkan pembicara tidak berpengaruh apa-apa pada kekuatan persuasinya; sebaliknya, karakternya hampir bisa disebut sebagai alat persuasi yang paling efektif yang dimilikinya (Lihat Rakhmat, 1993 : 225)

Salah satu kontribusi abadi untuk pengetahuan kita mengenai retorika adalah pemikiran Aristoteles tentang bagaimana persuasi terjadi. Dia berteori bahwa ada tiga cara untuk membujuk, yang disebutnya pembuktian (proofs) ; yakni Ethos, Pathos dan Logos. Ethos adalah bukti berdasarkan kredibilitas pembicara (trustworthiness, expertise, and good will), yaitu karakter yang melekat pada diri pembicara/komunikator. Kita cenderung untuk percaya orang yang kita hormati. Salah satu masalah utama argumentasi adalah untuk memberikan kesan kepada pendengar bahwa Anda adalah seseorang yang pantas didengar, dengan kata lain membuat diri Anda memiliki otoritas sebagai pembicara. Pathos (emosional)adalah bukti yang menarik emosi pendengar, kita dapat melihat teks mulai dari esai klasik hingga iklan kontemporer untuk melihat bagaimana pathos, daya tarik emosional yang digunakan untuk membujuk. Pilihan bahasa mempengaruhi respons emosional pendengar, dan daya tarik emosional secara efektif dapat digunakan untuk meningkatkan argumentasi. Sedangkan Logos (logika) yang berarti membujuk dengan menggunakan penalaran. Ini adalah teknik yang paling penting menurut Aristoteles. Aristoteles, bahkan, menyarankan penalaran deduktif dan induktif, dan mendiskusikan apa yang membuat pembicaraan kita menjadi efektif dan persuasif untuk mendukung argumentasi Anda. (Lihat Julia T. Wood, 2011 : 26)

Retorika menjadi penting tidak hanya pada era Yunani Kuno, sebagaimana dikatakan oleh William F. Eadie (2009 : 12), retorika adalah wilayah studi yang penting bagi orang-orang terpelajar sepanjang sejarah. Bahkan pada zaman Romawi, kita mengenal seorang orator yang terkenal sepanjang sejarah, bernama Marcus Tullius Cicero (3 Januari 106 SM – 7 Desember 43 SM). Dia adalah seorang filsuf Romawi, negarawan, pengacara, orator, ahli politik dan secara luas dianggap sebagai salah satu orator terbesar Roma. Pada masanya Cicero menulis buku manual untuk penataan isi pembicaraan didepan umum (public speaking) yang sampai saat ini masih dirujuk dalam buku teks public speaking. Rubent dan Stewart (2006 : 22), menyebutkan bahwa Cicero sangat berperan dalam memperluas teori komunikasi. Dan sebagaimana Plato dan Aristoteles, Cicero telah mengembangkan Teori Retorika dan melihat komunikasi sebagai “a both academic and practical matter”
Sejak Zaman Yunani sampai Romawi Kuno, retorika selalu berkaitan dengan kenegarawanan. Para Orator umumnya terlibat dalam kegiatan politik. Ketika demokrasi Romawi mengalami kemunduran, dan kaisar sedikit demi kaisar memegang Pemerintahan, retorika tersingkir kebelakang panggung. Para kaisar tidak senang mendengar orang yang pandai berbicara.

Pada abad pertengahan, yang biasa disebut abad kegelapan, retorika memiliki sejarah yang kelam. Ketika agama Kristen berkuasa, retorika dianggap sebagai kesenian jahiliah. Banyak orang Kristen waktu itu melarang mempelajari retorika yang dirumuskan oleh orang-orang Yunani dan Romawi, para penyembah berhala. Bila orang memeluk agama Kristen, secara otomatis ia akan memiliki kemampuan untuk menyampaikan kebenaran St. Agustinus, yang telah mempelajari retorika sebelum masuk Kristen tahun 386 M. Dalam On Christian Doctrine, ia menjelaskan bahwa para pengkhutbah harus sanggup mengajar, menggembirakan, dan menggerakkan – yang oleh Cicero disebut kewajiban orator. Untuk mencapai tujuan Kristen yakni mengungkapkan kebenaran, kita harus mempelajari teknik penyampaian pesan. (Lihat Rakhmat, 2001 : 10 – 11)
Pada era modern (1600 – 1900) retorika juga menjadi bagian yang penting. Retorika pada masa ini menjadi lebih berkembang dibandingkan masa-masa sebelumnya. Pada masa ini retorika yang baik dianggap bukan hanya pada gaya (style) tetapi juga bergaya (stylized). Pada awal abad ke-17, Sir Francis Bacon memasukkan pengucapan pidato (speechmaking) dan menulis yang dirancang untuk tujuan yang lebih praktis dalam teori-teorinya. Menurut Ruben dan Stewart ia telah mengusulkan dasar etis untuk komunikasi dan berpendapat bahwa fungsi retorika yang benar adalah untuk mengutamakan kebaikan, idenya memiliki pengaruh besar pada penulis kemudian. Namun demikian, menurut Rakhmat (2001 : 12) yang membangun jembatan, menjadi menghubungkan Renaissance dengan retorika modern adalah Roger Bacon (1214-1294), Ia bukan saja memperkenalkan metode eksperimental, tetapi juga pentingnya pengetahuan tentang proses psikologis dalam studi retorika. Ia menyatakan :, “kewajiban retorika ialah menggunakan rasio dan imajinasi untuk menggerakkan kemauan secara lebih baik”. Rasio, imajinasi dan kemauan adalah fakultas-fakultas psikologis yang kelak menjadi kajian utama ahli retorika modern.

Pada tahun 1776, George Campbell menulis buku “The Philosophy of Rhetoric”. Campbell menekankan bahwa ada tujuan pembicara yang berbeda-beda (untuk menginformasikan, untuk membujuk dan untuk menghibur) yang masing-masing tujuan tersebut dibutuhkan pendekatan yang berbeda-beda. Kunci untuk sukses dalam pembicaraan, menurut Campbell, terletak pada kualitas ide-ide seseorang. Dengan demikian, menurut Campbell, substansi isi pesan jauh lebih penting dibanding gaya (style) (Lihat Eadie, 2009 : 13).

Ide-ide campbell ini, menurut Eadie, segera menarik perhatian para intelektual di Amerika Serikat yang saat itu baru terbentuk, karena mereka mengejar ide-ide yang hidup sebagai hal yang penting untuk membangun demokrasi – yang pada saat itu sedang mulai dikembangkan – secara efektif. Dan pada masa-masa itu, perguruan tinggi dan universitas di Amerika Serikat mulai mempekerjakan dosen yang mahir dalam mengajar siswa bagaimana menggunakan retorika untuk mengkomunikasikan ide-ide efektif, baik secara lisan maupun tertulis.

Pada awal tahun 1900-an, muncul kelompok-kelompok cendekiawan yang yang seiring waktu berubah menjadi apa yang sekarang dikenal sebagai National Communication Association, dan the International Communication Association. Kedua organisasi ini mengadakan pertemuan rutin tahunann dengan menarik partisipasi sekitar 7.000 peserta, dan ada juga masyarakat kehormatan yang mengambil nama dari tiga fitur utama argumen persuasif diidentifikasi oleh Aristoteles: logos, pathos, dan ethos. Pada abad kedua puluh istilah retorika telah bergeser menjadi speech, speech communication, oral communication, atau yang sekarang menjadi kata yang sangat populer, public speaking.

2. Periode Jurnalistik
Bidang lain yang memberikan kontribusi signifikan terhadap warisan studi komunikasi adalah jurnalisme. Dari segi asal kata, menurut Dja’far Assegaf dalam bukunya “Jurnalistik Masa Kini”, jurnalistik dapat ditelusuri jauh, sampai kepada asal mula surat kabar pertama yang disebut “acta diurna”, yang terbit dizaman Romawi; dimana berita-berita dan pengumuman ditempelkan atau di pasang di pusat kota yang kala itu itu disebut Forum Romanum. Namun demikian, menurut Assegaf (1983 : 10), asal kata jurnalistik adalah “Journal” atau “Du jour” yang berarti hari, dimana segala berita atau warta sehari itu dimuat dalam lembaran yang tercetak. Sebagaimana retorika, jurnalisme juga berawal dari beberapa ribu tahun yang lalu. Praktek jurnalisme, menurut Ruben dan Stewart (2006 : 24), dapat dilacak pada 3700 tahun yang lalu di Mesir, ketika rekaman peristiwa pada masa itu dituliskan pada makam seorang raja Mesir. Beberapa tahun kemudian, Julius Caesar, julius memiliki catatan resmi dari berita yang setiap hari dipasang di tempat umum, dan salinannya dibuat dan dijual. Namun demikian, menurut Ruben dan Stewart, koran awal tidak sebagaimana koran yang kita kenal sekarang, adalah campuran bulletin (newsletter), balada, proklamasi, saluran politik, dan pamflet yang menggambarkan berbagai peristiwa.
Menurut isinya, papan pengumuman ini dapat dibedakan atas dua macam. Pertama, Acta Senatus, yang memuat laporan-laporan singkat tentang sidang-sidang senat dan keputusannya. Kedua, Acta Diurna Populi Romawi, yang memuat keputusan-keputusan dari rapat-rapat rakyat dan berita-berita lainnya. Acta Diurna ini merupakan alat propaganda pemerintah Romawi yang memuat berita-berita mengenai peristiwa-peristiwa yang perlu diketahui oleh rakyat. (Lihat AS Haris Sumadiria, 2008 : 17)
Pada zaman Romawi ini pulalah lahir wartawan-wartawan pertama. Wartawan-wartawan ini, menurut Sumadiria, terdiri dari budak-budak belian yang oleh pemiliknya diberi tugas mengumpulkan informasi. Berita-berita, bahkan juga menghadiri sidang-sidang senat dan semua melaporkan hasilnya baik secara lisan maupun tulisan. Kalau pemilik budak ini sedang bertugas didaerah, budak-budak ini selalu mengusahakan dan mengirim berita-berita yang terjadi di kota Romawi dengan maksud agar tuannya selalu mengikuti kejadian-kejadian di kota tersebut.
Sejarah jurnalisme, menurut Kevin G. Barnhurst dan John Nerone (2009 : 17) sangat beragam, dengan demikian cara terbaik untuk memetakan mereka adalah dengan menceritakannya sebagai sejarah (historicize). Strategi ini memiliki keuntungan tambahan menunjukkan bagaimana proyek penulisan sejarah jurnalisme telah menjadi bagian dari proyek yang lebih besar untuk mendefinisikan dan mendisiplinkan budaya berita.
Dalam pandangan Kevin G. Barnhurst dan John Nerone, Sejarah jurnalisme muncul dari dua sumber. Pertama adalah semacam intelektual umum yang berminat terhadap evolusi alat komunikasi. Banyak sarjana melacak minat ini kembali ke era Plato, yang membahas isu-isu kognitif yang berkaitan dengan penulisan. pemikir pencerahan di Eropa yang sangat memperhatikan bagaimana melek huruf (literacy), kemudian melek abjad (alphabetic literacy), dan akhirnya percetakan disebabkan perubahan struktural yang mendalam dalam kehidupan sosial, budaya, dan politik. Pemikir abad kedua puluh seperti Harold Adams Innis dan Marshall McLuhan menyatakan pandangan yang sama. Dalam karya sejarah jurnalisme yang tepat, pandangan ini sering muncul sebagai kecenderungan untuk menekankan pentingnya mesin dalam membentuk karya jurnalistik. Sejarah yang komprehensif sering menggunakan pengenalan teknologi baru, seperti pers atau penyiaran, sebagai narasi titik balik, dan otobiografi jurnalis sering berkutat pada perubahan yang terjadi dalam teknologi newsroom dalam perjalanan karir subyek mereka. Sementara Sumber kedua untuk sejarah jurnalisme, adalah pada profesi. Sebagaim newswork yang berkembang dan profesional. Dengan demikian sejarah jurnalisme, menurut adalah Kevin G. Barnhurst dan John Nerone, dibesarkan dengan jurnalisme, dan kesadaran sejarah adalah fitur pembangunan yang sebenarnya.

sSumadiria (2008 : 18) mengatakan bahwa surat kabar cetakan baru terbit pada tahun 911 M di China. Namanya King Pau, surat kabar milik pemerintah yang diterbitkan dengan suatu peraturan khusus dan Kaisar Quang Soo ini, mula-mula terbitnya tidak tetap, tetapi mulai tahun 1351 sudah terbit seminggu sekali. Isinya adalah keputusan-keputusan rapat-rapat permusyawaratan dan berita-berita dari istana.
Koran cetak pertama kali muncul di Eropa pada awal abad ketujuh belas, yang merupakan fitur akhir dari apa yang disebut revolusi pencetakan (printing revolution). Sebagaiman dikatakan oleh Stanley J. Baran (2011 : 124) surat kabar yang seperti kita kenal hari ini berakar dari Eropa pada abad ke-17. Corantos, lembaran satu halaman berita tentang persitiwa tertentu yang dicetak dalam bahasa Inggris di Belanda tahun 1620 dan dan diimpor ke Inggris oleh seorang penjual buku asal Inggris yang ingin memenuhi permintaan publik untuk informasi tentang peristiwa yang terjadi di Continental yang pada akhirnya menuju pada apa yang sekarang disebut dengan Thirty Years War.
Orang berkebangsaan Inggris, seperti Nathaniel Butter, Thomas Archer, dan Nicholas Bourne akhirnya mulai mencetak lembaran berita milik mereka sendiri, menggunakan judul yang sama pada tiap edisi secara berturut-turut. Mereka menghentikan penerbitan pada tahun 1641 dan ditahun yang sama pada saat laporal lokal mulai bermunculan dalam bentuk lembaran berita setiap hari. Inilah sebenarnya pelopor surat kabar harian yang disebut Diurnal.
Lebih lanjut, Baran mengemukakan bahwa pergolakan politik di Inggris pada saat itu mendorong hadirnya bibit media, seperti halnya para partisipan di sisi monarki dan orang-orang di parlemen yang menerbitkan Diurnal untuk mengangkat posisi mereka. Ketika golongan kerajaan menang, hak monopoli publikasi Oxford Gazette menjadi milik mereka dan menjadi suara resmi kerajaan. Didirikan pada tahun 1665 dan kemudian berganti nama menjadi London Gazette, jurnal ini menggunakan formula berita asing, informasi resmi, laporan kerajaan, dan berita lokal yang menjadi model pertama untuk surat kabar kolonial.
Perkembangan percetakan dan peningkatan berikutnya dalam literasi, kemampuan untuk membaca dan menulis, di antara orang biasa juga membantu tidak hanya untuk melestarikan ide-ide tetapi juga untuk berkontribusi terhadap perdebatan publik tentang isu-isu penting. Para penerbit mulai melaporkan dan mempublikasikan berita sebagai cara memiliki penghasilan tetap untuk bisnis mereka, pengusaha ini akan melatih wartawan mereka untuk mengumpulkan dan menulis berita untuk sebarkan.
Seorang anggota Parlemen Inggris, Edmund Burke, diberikan penghargaan sebagai orang pertama kali memberikan julukan pers sebagai “the fourth estate”, dan dikenal sebagai tokoh pers paling berpengaruh, karena dalam jabatannya sebagai anggota parlemen, dia berjuang untuk menekankan pentingnya jurnalism dalam masyarakat. Para pendiri Amerika serikat mengakui bahwa penting untuk memasukkan kebebasan berekspresi (freedom of expression) dan pers bebas (free press) kedalam the Bill of Rights, perubahan pertama konstitusi Amerika Serikat. (Lihat Eadia, 2009 : 13)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s