BAHASA : ASPEK VERBAL DALAM KOMUNIKASI

Secara sederhana komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan bahasa (baik lisan maupun tulisan) sebagai media dalam berkomunikasi. Bahasa dapat dibayangkan sebagai kode, atau sistem simbol, yang kita gunakan untuk membentuk pesan-pesan verbal kita. Joseph A. Devito (1997 : 119) mendefinisikan bahasa sebagai sisem produktif yang dapat dialihkan dan terdiri atas simbol-simbol yang cepat lenyap (rapidly fading), bermakna bebas (arbitrary), serta dipancarkan secara kultural. Ronald B. Adler dan George Rodman dalam buku  Understanding Human Communication, mendefinisikan bahasa sebagai “a collection of symbols governed by rules and used to convey messages between individuals”. Dalam definisinya ini, Adler dan Rodman menjelaskan bahasa melalui beberapa konsep :

  1. Languange is Symbolic
  2. Meanings Are in People, Not Words
  3. Language Is Rule-Governed

Sementara itu, Jalaludin Rakhmat dalam  bukunya Psikologi Komunikasi, mendefinisikan bahasa dengan dua cara; fungsional dan formal. Definisi fungsional melihat bahasa dari segi fungsinya. Sehingga bahasa diartikan sebagai “alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan” (socially shared means for expressing ideas). Yang dimaksud dengan “socially shared” adalah karena bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan diantara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Sementara itu, definisi formal menyatakan bahasa sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa (all the conceivable sentences that could be generated according to the rules of its grammar). Setiap bahasa mempunyai peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaikan supaya memberi arti.

Bahasa, menurut Dedy Mulyana, adalah seperangkat simbol, dengan aturan yang mengkombinasikan simbol-simbol tertentu, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas. Bahasa verbal adalah sarana utama untu menyatakan pikiran, perasaan dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang merepresentasikan berbagai aspek realitas dalam individual kita. Konsekuensinya, kata-kata adalah abstraksi realitas kita yang tidak mampu menimbulkan reaksi yang merupakan totalitas objek atau konsep yang diwakili kata-kata itu (Mulyana, 2005)

Bahasa verbal menggunakan bahasa alfanumerik (alphanumeric), satu dari kelebihan manusia yang paling mengesankan. Brent Ruben dan Lea P. Stewart menuturkan bahwa saat ini ada sekitar 10.000 bahasa dan dialek yang berbeda yang digunakan, dan memiliki keunikan dalam beberapa hal tertentu. Ada beberapa kesamaan diantara bahasa-bahasa tersebut. Semua bahasa, misalnya, menggunakan perbedaan diantara huruf vokal dan konsonan, dan hampir di semua bahasa subjek mendahului objek dalam kalimat pernyataan. Ruben dan Stewart juga menambahkan bahwa setiap bahasa memiliki pola identifikasi dengan seperangkat aturan yang berhubungan dengan :

  • Phonology. Adalah suatu cara dimana suara (sounds) digabungkan untuk membentuk kata-kata
  • Syntax. Adalah suatu cara dimana kata-kata (words) digabungkan kedalam kalimat (sentences)
  • Semantics. Adalah makna dari kata-kata yang berdasarkan pada hubungan satu sama lain dan unsur-unsur konteks.
  • Pragmatics. Adalah cara dimana bahasa digunakan secara praktis.

 Julia T. Wood dalam bukunya Communication Mosaics; An Introduction to The Field of Communication (2011 : 70-74) menyebutkan bahwa ada tiga karakteristik bahasa sebagai simbol :

1. Arbitrariness

Bahasa bersifat Arbitrary (sewenang-wenang), yang berarti bahwa simbol-simbol verbal tidak secara intrinsik berhubungan dengan apa yang mereka wakili. Kata-kata dan istilah tertentu tampaknya benar karena sebagai masyarakat kita setuju untuk menggunakannya dalam cara-cara tertentu. Namun demikian, meskipun bersifat Arbitrary, makna berubah dari waktu ke waktu. Misalkan, kata apple merujuk secara eksklusif untuk buah, dan kata mouse digunakan untuk merujuk kepada tikus, namun saat ini apple dan mouse digunakan juga untuk merujuk kepada istilah yang berkaitan dengan komputer

2. Ambiguity

Bahasa bersifat ambigu, dalam artian tidak memiliki makna yang tepat dan jelas. Hal ini berarti setiap kata memiliki banyak makna yang berbeda-beda yang dapat membingungkan orang yang menggunakan setiap kata tersebut tanpa memahami konteksnya. Makna setiap kata bervariasi sesuai dengan konteks budaya dan pengalaman individu. Jadi meskipun bahasanya sama, tapi maknanya berbeda-beda sesuai dengan pengalaman pribadi, kepentingan, identitas dan latar belakang.

Meskipun bahasa memiliki makna yang berbeda-beda untuk setiap orang, dalam suatu budaya kata-kata memiliki berbagai makna yang disepakati. Dalam belajar komunikasi, kita belajar tidak hanya kata-kata tetapi juga makna an nilai-nilai masyarakat kita. Jadi setiap orang memahami bahwa kata “anjing” mengacu pada makhkluk berkaki empat (dan kadang-kadang juga mengacu kepada “hot dog”), tetapi masing-masing dari kita juga memiliki atribusi makna pribadi berdasarkan anjing yang kita ketahui dan bagaimana keluarga dan budaya kita memaknai “anjing”. Dalam  beberapa budaya, anjing adalah makanan untuk konsumsi manusia, sementara di Amerika Serikat anjing adalah sebagai “sahabat”. Sebaliknya, banyak orang Barat yang memakan daging sapi, sedangkan dalam budaya hindu sapi adalah hewan yang disucikan

3.      Abstraction

Bahasa bersifat abstrak, yang berarti bahwa kata-kata bukanlah fenomena nyata atau konkret yang kita rujuk. Kata-kata berdiri untuk (stand for) fenomena – seperti; ide, orang, peristiwa, benda, perasaan dan sebagainya. Tetapi kata-kata bukanlah hal mereka wakili.

Untuk mampu menggunakan bahasa tertentu, kita harus menguasai beberapa tahapan pengetahuan bahasa: pada tahap pertama, kita harus memiliki informasi fonologis tentang bunyi-bunyi dalam bahasa itu. Misalnya, kita harus sanggup membedakan bunyi “th” dalam “the” dengan “th” dalam “think”. Pada tahap kedua, kita harus memiliki pengetahuan sintaksis tentang cara pembentukan kalimat. Misalnya dalam bahasa Inggris kita harus tahu menempatkan “to be” pada kalimat-kalimat nominal. Pada tahap ketiga, kita harus mengetahui secara leksikal arti kata atau gabungan kata-kata. Misalnya, kita harus tahu arti kata “take” dan “take into account”. Pada tahap keempat, kita harus memiliki pengetahuan konseptual tentang dunia tempat tinggal kita dan dunia yang kita bicarakan. Akhirnya, pada tahap kelima, kita harus mempunyai semacam sistem kepercayaan untuk menilai apa yang kita dengar (lihat Jalaludin Rakhmat, 1993 : 269)

Bahasa menurut para ahli bahasa adalah salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki manusia untuk dapat bertahan hidup dalam lingkungannya. Secara sederhana saja dapat dikatakan bahwa bahasa memungkinkan kita untuk memberikan nama dan secara simbolis merepresentasikan unsur-unsur dalam dunia kita. Ferdinand de Saussure, seorang ahli bahasa berkebangsaan Swiss, menyatakan bahwa hubungan diantara kata (the signifier) dan objek yang direpresentasikannya (the signified) adalah bersifat arbitrary, dalam artian tidak ada hubungan intrinsik diantara objek dan “tanda” yang kita gunakan. Beberapa hal mengacu kepada label yang nyata dan konkret – seperti, teman, guru, buku, kuliah, membaca, dan menulis. Namun disisi lain, bahasa memberikan juga kepada kita sarana untuk merepresentasikan konsep-konsep yang abstrak – seperti, persahabatan, belajar, love, pengetahuan dan kebebasan. Melalui bahasa kita dapat memanipulasi simbol dalam pemikiran kita. Kita dapat juga menciptakan, menguji, dan memperhalus pemahaman kita mengenai dunia. (Ruben dan Stewart, 2006 : 133)

Fungsi bahasa yang mendasar, menurut Dedy Mulyana, adalah untuk menamai atau menjuluki orang, objek dan peristiwa. Setiap orang punya nama untuk identifikasi sosial. Orang juga dapat menamai apa saja, objek-objek yang berlainan, termasuk perasaan tertentu yang mereka alami. Penamaan adalah dimensi pertama bahasa dan basis bahasa, dan pada awalnya itu dilakukan manusia sesuka mereka, yang lalu menjadi kesepakatan (konvensi). Menurut Larry L. Barker, bahasa memiliki tiga fungsi: penamaan (naming atau labeling), interaksi dan tramsisi informasi. Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasi objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi. Fungsi interaksi menekankan berbagai gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan. Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain. Sementara itu, fungsi tramsisi menenakankan bahwa kita menerima informasi setiap hari, sejak bangun tidur hingga tidur kembali, baik secara langsung atau tidak langsung. Bahasa bersifat transmisi, dalam artian dapat menghubungkan kita dengan masa lalu, masa kini maupun masa depan untuk memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita. Tanpa bahasa kita tidak mungkin bertukar informasi; kita tidak mungkin menghadirkan semua objek dan tempat untuk kita rujuk dalam komunikasi kita (Dedy Mulyana, 2005 : 243).

Bahasa, menurut Joseph Devito, bersifat produktif, terbuka dan kreatif. Artinya, pesan-pesan verbal kita merupakan gagasan-gagasan baru. Sifat-sifat ini memastikan bahwa sistem pesan manusia memungkinkan terciptanya kata-kata baru. Produkitifitas, menurut Devito, memungkinkan kita menciptakan kalimat-kalimat yang belum pernah kita ucapkan sebelumnya secara tak terbatas, tetapi kalimat-kalimat ini harus mengikuti aturan atau kaidah bahasa agar dapat dimengerti orang lain. Artinya, produktifitas bekerja dalam batas sistem kaidah yang terdefinisi secara jelas yang merinci apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan : Kita bisa mengatakan “sapi itu tidak mau makan rumput” tetapi tidak bisa mengatakan “itu mau tidak sapi rumput makan”. Oleh karena itulah, komunikasi yang efektif dimulai dengan, dan dalam batas-batas, kaidah bahasa. Makin banyak pesan kita melanggar kaidah bahasa, makin kecil kemungkinan pesan kita dimengeri orang lain.

Sebegitu pentingnya bahasa dalam kehidupan kita, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa “man has been defined as a tool-using animal, but his most important tool, the one that distinguished him from all other animals, is his speech”. Hal ini menurut Komarudin Hidayat, bahwa kita tidak saja menggunakan bahasa sekadar untuk memberikan penamaan (naming or labelling), namun dari sisi lain, bahasa dapat juga dilihat sebagai medium dalam pengertian kita tidak saja berbuat sesuatu dengan bahasa (with languange), melainkan kita beraktifitas didalam bahasa (within languange).

Mengingat manusia dan bahasa tidak bisa dipisahkan, maka sesungguhnya kualitas dan gaya bahasa seseorang merupakan indikator kualitas kepribadiannya serta kultur darimana. Jika dijumpai anak kecil lancar berbahasa Cina, misalnya, pasti dia diasuh dalam kebudayaan Cina. Sungguh benar petuah lama yang mengatakan bahwa bahasa adalah cermin jiwa dan masyarakat. Jika pikiran seseorang sedang kacau, maka bahasanya juga kacau. Sebaliknya, ketika bahasa terkena polusi dan virus, pada gilirannya, juga mendatangkan polusi dan virus pada alam pikiran dan perilaku seseorang. Berbahasa yang baik adalah yang mampu mengungkapkan sebuah gagasan atau konsep yang jelas, teratur dan indah sehingga enak didengar dan tidak mudah menimbulkan salah paham. Penyebab kesalah pahaman bisa muncul dari pihak pembicara (atau penulis), bisa dari pihak pendengar (atau pembaca), atau bisa juga terletak pada medium atau alat komunikasi yang digunakannya. (Lihat Hidayat, 2003 : 5)

Namun demikian, menurut Dedy Mulyana, kita sering tidak menyadari mengenai pentingnya bahasa, karena kita sepanjang hidup menggunakannya. Kita barus sadar bahasa itu penting ketika kita menemui jalan buntu dalam menggunakan bahasa, misalnya: ketika kita berupaya berkomunikasi dengan orang yang sama sekali tidak memahami bahasa kita yang membuat kita frustasi; ketika kita sulit menerjemahkan suatu kata, frase, atau kalimat dari satu bahasa ke bahasa lain; ketika kita harus menulis lamaran pekerjaan atau diwawancarai dalam Inggris untuk memperoleh suatu pekerjaan yang bagus (Mulyana, 2005 : 242). Hal senada diungkapkan oleh Komarudin Hidayat, kebanyakan orang tidak mengganggap bahasa sebagai hal yang penting karena kita terlahir dan tumbuh sudah dalam buaian dan pelukan bahasa. Berbahasa, dalam pandangan Hidayat, ibarat menghirup udara, setiap saat kita konsumsi tanpa mempertanyakan dari mana asal-usulnya. Kita baru mulai resah mengenai kualitas udara tatkala kita merasakan adanya polusi yang membuat pernafasan sesak. Hal serupa terjadi pada bahasa, antara lain ketika memasuki komunitas asing yang tidak kita pahami bahasanya. Ketika kata-kata dan informasi tidak lagi dapat dipahami dan bahkan membingungkan, kita mulai kritis untuk mempertanyakan bahasa dan berbagai aspek dan fungsinya (Hidayat, 2003 : 33)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s