CYBERFEMINISME : MENCARI HUBUNGAN TEKNOLOGI, MEDIA BARU DAN FEMINISME

Penemuan teknologi dalam bidang komunikasi dan informasi telah membawa kita memasuki era baru sejarah budaya. Beberapa ahli bahkan mengatakan bahwa new media telah benar-benar merubah kehidupan kita (lihat Andoni Alonso dan Pedro J. Oiarzabal, 2010). Robert Samuel dalam bukunya New Media, Cultural Studies, and Critical Theory after Postmodernism (2010 : 3) menyebutkan bahwa saat ini kita berada pada suatu kondisi paradoks kombinasi otomatisasi sosial dan otonomi individu. Hal ini menurut Samuel, salah satunya, akibat dari penemuan media-media baru yang berdampak pada terbentuknya “automodernity” – untuk menggambarkan tahapan budaya baru. Lebih lanjut Samuel berpendapat bahwa automodernity yang merupakan reaksi terhadap postmodern memberikan penekanan pada konflik sosial dan budaya dengan merayakan kemampuan otonomi individu untuk mengeksploitasi ketidak teraturan (unregulated) dan sistem sosial otomatis. Dengan demikian, new media memberikan sebuah kerangka berpikir untuk setiap manusia yang ingin membebaskan dirinya dari segala macam aturan yang membatasi ruang geraknya, dan ingin terlepas dari segala macam aturan tersebut, yang seringkali tidak bisa dihindari. Meskipun secara negatif, pertumbuhan media baru ini dapat menghasilkan pandangan libertarian dan antisosial.

Dalam era new media, setiap individu maupun kelompok-kelompok sosial, budaya, ekonomi maupun politik harus meniscayakan dirinya untuk berinteraksi secara aktif dengan new media, bukan sekadar untuk mengekspresikan identitas individu atau kelompok, namun yang lebih penting bagaimana kemudian setiap kelompok menggunakan media baru sebagai wadah komunikasi untuk melakukan pemberdayaan atau pun pembebasan dirinya, atau meminjam istilah Robert Samuel (2010) untuk “celebrating the autonomous individual’s ability”. Dalam perspektif ini, menurut Samuel, kekuatan terorganisir perempuan, etnis minoritas, pekerja, dan subyek kolonial semua menuntut inklusi dalam pengertian modern mengenai kesetaraan. Sayangnya, kebanyakan teori akademis dan kritis mengabaikan peran penting new media dalam menumbuhkan gerakan-gerakan sosial yang telah dimainkan dalam pemikiran ulang modernitas dan pembentukan masyarakat kontemporer.

Feminisme sebagai sebuah gerakan pembebasan kaum perempuan yang berupaya untuk melawan subordinasi terhadap perempuan telah menerapkan new media kedalam isu-isu penting, dan cyberfeminisme merupakan hasil penting dari penerapan tersebut. Dictionary of Media Studies (2006 : 58) menyebut Cyberfeminisme sebagai “the study of new technology and its effect on women’s issues”. Namun demikian, sejatinya, cyberfeminisme bukan sekadar studi teoritis ataupun kajian kritis, ia juga merupakan gerakan praksis yang menawarkan utopia pembebasan kaum perempuan dari segala macam dominasi patriarkal. Interaksi dengan new media telah memberikan sebuah wahana baru bagi kaum perempuan untuk bangkit membebaskan dirinya dari dominasi dan subordinasi. Berbeda dengan kebanyakan teknologi-teknologi lain yang cenderung didominasi oleh kaum pria, new media lebih netral dan tidak memihak kepada maskulinitas. Dengan demikian new media, dalam pandangan cyberfeminisme, telah memberikan sebuah wilayah yang besar, wilayah dengan arena tujuan dari cyber space, yaitu proses teknologi yang di genderisasi, dengan cara pemberdayaan perempuan melalui techno-budaya.

Para cyberfeminis – sebutan untuk penganut cyberfeminisme – berpendapat bahwa perempuan secara alami cocok untuk menggunakan new media, karena perempuan dan new media serupa by nature. Keduanya, menurut para cyberfeminis merupakan replikasi diri sistem yang bersangkutan dengan saling membuat koneksi. Mereka memiliki pendapat bahwa meskipun feminis sebelumnya telah diyakini bahwa komputer pada dasarnya adalah “laki-laki”, namun demikian kita malah harus melihat komputer dan internet sebagai tempat bagi perempuan untuk terlibat dalam bentuk-bentuk baru kerja, dimana perempuan dibebaskan dari kendala tradisional dan mampu bereksperimen dengan identitas dan mendapatkan jalan baru untuk mengklaim kekuasaan dan otoritas. Pandangan para feminis tentang cyberspace sebagai ruang, disambut dengan tangan terbuka, di mana mereka dapat dan harus merebut peluang untuk memajukan diri dan menantang otoritas laki-laki (lihat Encyclopedia of New Media, Sage Reference).

Disamping itu yang terpenting, para cyberfeminis melakukan upaya untuk bekerja menuju pemberdayaan perempuan melalui new media dengan melawan berbagai diskursus yang didominasi laki-laki yang mengelilingi penggunaan teknologi baru. Cyberfeminis juga mencoba untuk merancang situs Web dan ruang online elektronik lainnya, baik sinkronis maupun asinkronis – yang akan melawan konstruksi gender yang dominan sekaligus memberdayakan perempuan di seluruh dunia. Para cyberfeminis umumnya juga percaya bahwa new media adalah persoalan feminis. Antara lain, mereka tertarik pada kemungkinan aktivisme dan penelitian dan melalui Internet. Apa yang paling mereka pahami bersama adalah keyakinan bahwa perempuan harus mengambil alih dan menggunakan dengan tepat cyber-teknologi dalam upaya untuk memberdayakan diri sendiri.

“cyberfeminisme” sejatinya merujuk pada bagaimana para feminis (cyberfeminis) menggunakan new media sebagai wahana untuk memberdayakan dan membebaskan diri mereka sendiri dari male-dominated discourses. Cyberfeminism juga dapat menjadi alternatif mengenai bagaimana seharusnya perempuan secara optimal menggunakan new media untuk pemberdayaan, agar mimpi-mimpi besar mengenai pembebasan tidak sekadar menjadi utopia, yang merujuk ke sebuah proposal yang baik namun (secara fisik, sosial, ekonomi, atau politik) tidak mungkin terjadi.

Cyberfeminisme menurut Dictionary of Media Studies (2006 : 58) adalah studi mengenai teknologi-teknologi baru dan pengaruhnya terhadap isu-isu perempuan. Kemunculan cyberfeminisme menurut Sarah Kember (2003: 177) dapat didefinisikan berkaitan dengan asal-usulnya dalam teori dan praktek feminis akhir 1980-an dan awal 1990-an, yang berkaitan dengan kemunculan teknologi mengenai revolusi informasi. Hal itu menjadi bagian dari respon terhadap politik anarkis cyberpunk. Cyberfeminism kemudian menjadi mazhab penting dari Studi cyberculture dan feminisme, dan telah mengembangkan serangkaian perhatian utama, termasuk isu-isu pemisahan tubuh / pikiran, visi masyarakat fokus yang pada isu-isu seperti identitas dan komunitas sosial. Cyberfeminisme kemudian menjadi strategi politik serta metode artistik paling aktif di tahun 1990-an.

Cyberfeminisme muncul dari penggunaan media digital dan teknologi komunikasi baru. Teknologi ini dianggap memiliki baik janji dan ancaman, dengan potensi pemberdayaan simultan dan penindasan. Mereka menawarkan cara untuk membuka ruang dan komunikatif masyarakat, untuk terlibat dalam bermain dan politik dan untuk mengakses informasi dan membuat jaringan.

Cyberfeminism adalah istilah yang diciptakan pada tahun 1994 oleh Sadie Plant, direktur Cybernetic Culture Research Unit di Universitas Warwick Inggris, untuk menggambarkan karya feminis yang tertarik untuk berteori, mengkritik, dan mengeksploitasi internet, cyber space, dan teknologi media baru pada umumnya. Istilah dan gerakan ini berkembang dari feminisme gelombang ketiga, gerakan feminis kontemporer yang mengikuti feminism gelombang kedua pada 1970, yang berfokus pada hak-hak yang sama bagi perempuan, dan yang dengan sendirinya mengikuti feminisme gelombang pertama pada awal abad ke-20, yang berkonsentrasi pada hak pilih perempuan. Cyberfeminisme cenderung untuk memasukkan sebagian besar perempuan muda, wanita yang cerdas secara teknologi dan orang-orang dari Barat, kulit putih, dan berlatar belakang kelas menengah (Encyclopedia of New Media, Sage Reference).

Sadie Plant (dalam Gamble, 2010 : 270-271) mendefinisikan Cyberfeminisme sebagai “suatu pemberontakan atas bagian barang-barang dan material-material dari kemunculan patriarkal yang terdiri atas mata rantai antara perempuan, perempuan dan komputer, komputer dan jaringan-jaringan komunikasi, penghubung dan mesin-mesin penghubung. Pendapat inilah, menurut Gamble, yang menandai adanya utopianisme cyberfeminisme yang mengatakan bahwa teknologi tidaklah membahayakan bagi perempuan, dan bahwa perempuan seharusnya merebut kendali dari sistem informasi baru. Namun demikian, menurut Gamble, dewasa ini, cyberfeminisme memiliki banyak isu untuk bersaing dengan tidak sekadar kebutuhan mengimbangi suatu agenda politis yang koheren dengan visi utopia dari impian cyberspace. Keserbaragaman sumber-sumber dan jaringan-jaringan yang dimiliki feminis atas website, menurut Gamble, telah menunjukkan bahwa ada suatu kehadiran perempuan didalam cyberspace, walaupun hal itu juga dipandang apakah ini akan mendorong ke arah koalisi-koalisi yang mendatangkan manfaat.

Kemampuan manusia untuk secara genetik memodifikasi manusia, hewan dan tanaman, pengembangan mesin cerdas dan robot serta komunikasi instan di seluruh dunia secara radikal mengubah apa yang kita ambil untuk menjadi ‘dunia nyata’. Agenda radikal yang telah menjadi terkait dengan cyberfeminism telah berupaya untuk menanggapi perubahan ini secara positif dan kritis (Lihat Stevenson, 2002 : 210). Menurut Stevenson, cyberfeminisme telah berusaha untuk membawa perhatian kita pada cara-cara di mana narasi budaya tentang teknologi telah membatasi praktek material dan budaya imajinasi pria dan wanita.  Dengan pengembangan new media, cyberfeminis telah mengambil kesempatan untuk mendekonstruksi pemahaman budaya yang memosisikan maskulinitas dengan teknologi dan feminitas dengan alam. Dalam konteks ini, cyberfeminisme telah berupaya untuk mendefinisikan kembali new media melalui peluang mencari secara kritis penyingkiran dan penindasan perempuan, sekaligus menjelajahi fantasi dan kerangka budaya di mana kita biasanya memahami teknologi (Stevenson, 2010: 211).

Ide mengenai cyberfeminisme bermula dari gagasan Donna Haraway mengenai “Cyborg Manifesto”. Dalam esai klasiknya “Cyborg Manifesto”, Donna Harraway (dalam Gamble, 2012: 105) mengidentifikasi sebuah feminisme baru yang melibatkan citra mengenai ‘cyborg’ – sebuah organisme sibernetika, sebuah pencangkokan antara mesin dan organisme. Visinya adalah bahwa pengaburan batas-batas antara manusia dan mesin pada akhirnya akan membuat kategori laki-laki dan perempuan tidak terpakai, dan membuka lebar jalan kepada sebuah dunia dengan kebebasan, diluar gender. Lebih lanjut Harraway (dalam Gamble, 2010: 272) menyatakan bahwa kita hidup dalam suatu dunia komunikasi elektronik cyborg, perbedaan antara yang artificial dan yang alami tetap ambigu. Istilah ‘cyborg’ menurut Gamble, merupakan singkatan dari ‘cybernetic organism’ dan diciptakan oleh ilmuwan bidang penelitian ruang bernama Manfred Clynes pada tahun 1960. Namun cyborg, dimunculkan dalam cerita-cerita fiksi ilmiah pada dekada-dekade awal. Cyborg dapat menjadi apapun dari seorang manusia dengan suatu pergantian organ tubuh ke dalam robot dengan suatu lapisan kulit yang halus (seperti dalam film-film Terminator), dan menurut Donna Harraway, kita semua adalah cyborg sampai taraf tertentu.  Konsep cyborg dalam konteks cyberfeminism telah membantu untuk mengatasi semua dikotomi – termasuk perempuan / laki-laki – dan menjanjikan utopia genderless.

Perumpamaan cyborg menyatakan bahwa teknologi elektronik membuat pelarian dari batas-batas tubuh menjadi mungkin, dan dari batasan-batasan yang telah memisahkan bentuk organik dari hal-hal yang tidak organik. Oleh sebab itu, menurut Gamble (2010 : 105) saat manusia berhubungan dengan teknologi komputer, pribadinya berubah menjadi sesuatu yang sepenuhnya baru, mengombinasikan teknologi dengan identitas manusia. Dalam pola pikir ini, metaphor cyborg tersebut menyediakan sebuah jalan untuk menyelesaikan pembagian antarfeminis dan Dunia Ketiga dalam sebuah gerakan di mana penindasan digulingkan dan egalitarianism menjadi niscaya. Oleh sebab itu, buka kebetulan bahwa banyak kelompok sosial merangkul komputer dan meluas ke cyberspace sebagai ikon budaya dimana perbedaan fisik gender, ras, atau orientasi seksual menjadi tak terpakai.

Salah satu respon feminis terhadap kemunculan computer sebagai mediator komunikasi berasal dari kalangan “liberal cyberfeminism”. Respons ini dipengaruhi oleh diskusi-diskusi tentang ketidakstabilan gender yang diikuti oleh feminis dan teoritikus queer. Pendekatan ini dalam pandangan Gamble (2010: 106), memandang komputer sebagai sebuah pemerdekaan atas utopia yang berlangsung melampaui polaritas laki-laki/perempuan, heteroseksual/homoseksual, dan cyberculture sebagai batasan baru dari aktivisme seksual dan pemberontakan. Cyberfeminisme liberal, yang telah dipengaruhi oleh feminisme liberal, postmodernisme dan teori queer¸ telah memperluas gagasan cyberspace sebagai forum demokratis dimana para pengguna dibebaskan dari paksaan-paksaan dunia fisik terhadap seksualitas.

Namun demikian, Ini bukan satu-satunya cara dimana perempuan telah merebut peluang yang disediakan oleh teknologi informasi untuk mengangkat bahu melawan hambatan peran tradisional mereka. Judy Wajcman dalam esainya The Gender Politics of Technology (2006 : 715) menyatakan bahwa munculnya cyberfeminisme telah memberikan suara ke aliran baru dari teori gender yang mencakup ide-ide utopis cyberspace menjadi area bebas gender (gender-free) yang menjadi kunci bagi pembebasan perempuan. Cyberfeminis, menurut Wajcman, mengklaim bahwa Internet menyediakan dasar teknologi untuk membentuk masyarakat baru dan keragaman subjektivitas yang inovatif. Teknologi digital memfasilitasi kaburnya batas-batas antara manusia dan mesin serta batas-batas laki-laki dan perempuan, yang memungkinkan pengguna untuk memilih mereka, penyamaran mereka dan menganggapnya sebagai identitas alternatif. Eksplorasi Identitas ini kemudian menantang pengertian tentang subjektivitas dan mensubversi fantasi maskulin yang dominan.

Dalam hal ini, cyberspace lebih memungkinkan ‘ketidakstabilan gender’ daripada ‘pengkategorian gender’, sehingga membebaskan para partisipan dari binarisme (pemasangan) kelaki-lakian/keperempuanan. Meskipun kemudian, sebuah tradisi feminis yang telah berdiri lama menyatakan bahwa teknologi dituliskan dengan istilah-istilah maskulin, metafor cyborg bukan hanya mainan lain bagi anak laki-laki, dan banyak feminis telah beralih pada dunia cyberspace dalam mencari agensi dan kebebasan (Lihat Gamble, 2010)

Dengan demikian dapat disimpulkan dengan bahasa yang cukup sederhana, bahwa cyberfeminis berupaya untuk bekerja menuju pemberdayaan perempuan melalui teknologi untuk melawan berbagai diskursus yang didominasi laki-laki yang mengelilingi penggunaan teknologi. Dengan memanfaatkan new media, para cyberfeminis mencoba untuk melawan segala macam konstruksi yang mendominasi gender sekaligus memberdayakan perempuan di seluruh dunia, dan yang terpenting, menurut mereka, adalah keyakinan bahwa perempuan harus mengambil alih dan Menggunakan new media dalam upaya untuk memberdayakan diri sendiri.

New Media dan teknologi dalam Perspektif Feminisme

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimanakah para Feminisme melihat hubungan antara teknologi, termasuk new media, dan gender? Bagaimanakah perspektif yang digunakan dalam melihat kerumitan hubungan tersebut? Serta bagaimanakah teknologi berpihak kepada kepentingan (kuasa?) perempuan?

 Hubungan antara perempuan dan teknologi tidak pernah mudah, sebab persepsi tradisional teknologi sangatlah bertentangan dengan perempuan. Sebagaimana dikatakan Sarah Gamble (2010 : 101), dalam kebanyakan kasus, penggambaran simbolis teknologi menghasilkan stereotype bahwa perempuan itu bodoh dan tidak layak dalam bidang teknologi. Kebanyakan peralatan teknologi cenderung dikategorikan berdasarkan gender. Ada peralatan yang lebih cocok untuk laki-laki(misalnya, gergaji, truk, kunci inggris, senapan); dan ada juga yang lebih cocok untuk perempuan (misalnya pembersih debu, mesin ketik dan setrika). Namun demikian yang lebih penting, menurut Gamble, laki-lakilah yang memegang kendali dalam teknologi, sebab perempuan biasanya dianggap tidak paham tentang teknik dan prinsip-prinsip fisika tentang bagaimana mesin dioperasikan.

Kebanyakan definisi teknologi memiliki bias laki-laki. Sebagaimana dikatakan oleh Judy Wajcman (2006 : 722) dalam esainya “The Gender Politics of Technology”, hal ini merupakan penekanan pada teknologi yang didominasi oleh laki-laki yang berkonspirasi untuk mengurangi pentingnya teknologi perempuan, seperti hortikultura, memasak, dan perawatan anak, dan sebagainya dan kemudian mereproduksi stereotip perempuan sebagai bodoh dan tidak mampu secara teknologi. Kekuatan abadi dari identifikasi antara teknologi dan kejantanan (manliness), tidak melekat dalam perbedaan jenis kelamin biologis. Ini lebih merupakan hasil dari sejarah dan budaya konstruksi gender. Dengan demikian, menurut Wajcman, kita perlu memahami teknologi sebagai budaya yang mengekspresikan dan mengkonsolidasikan hubungan antara laki-laki. Tulisan para feminis telah lama mengidentifikasi cara-cara dimana hubungan teknologi dan gender terwujud tidak hanya dalam institusi tetapi juga dalam simbol-simbol budaya, bahasa, dan identitas.

Ketidakmampuan untuk memahami prinsip-prinsip pengoperasian dan etos teknologi selalu dihubungkan dengan perempuan. Hal ini, menurut Gamble (2010 : 102), karena kemampuan teknis merupakan pusat persepsi dominan atas maskulinitas yang melihat posisi ‘alami’ antara laki-laki/perempuan, rasionalitas/emosi, keras/lembut. Kontruksi sosial ini terbentuk dari sistem yang lebih luas atas stereotype seksual dalam budaya Barat yang mengidentifikasi laki-laki dengan budaya dan ilmu pengetahuan, dan perempuan dengan kealamiahan dan intuisi. Lebih lanjut Gamble menyatakan bahwa, dengan mengikuti sebuah pendekatan psikoanalisis, hubungan antara maskulinitas dan teknologi telah menjelaskan perihal kecemburuan akan ruang yang kosong (womb envy), dengan mana, laki-laki “melahirkan” ilmu pengetahuan dan persenjataan untuk mengganti kekurangan mereka dalam kekuatan ajaib melahirkan bayi.

Walaupun demikian, menurut Gamble, gagasan teknologi sebagai budaya maskulin berlanjut lebih jauh daripada psikoanalisis. Gagasan ini juga berkembang dari proses-proses tradisional sosialisasi perempuan hingga hubungan dengan objek-objek teknologi. Berbagai bentuk pengenalan anak kecil terhadap teknologi bermula dirumah; mainan untuk anak laki-laki diciptakan dengan dasar matematika, ilmu pengetahuan, dan pengetahuan teknologi, sementara mainan untuk anak perempuan membantu perkembangan sifat keperawatan dan ketrampilan interaksi sosial mereka.

Sebelum munculnya cyberfeminism, studi feminis mengenai teknologi cenderung untuk mengkaji perkembangan teknologi secara sosial dan kultural. Salah satu argumen utama adalah teknologi telah diposisikan sebagai bagian dari budaya maskulin – sesuatu yang membuat pria tertarik – dan karena itu terlibat dalam teknologi lebih dalam dibandingkan wanita. Meskipun perempuan sepanjang sejarah telah aktif dalam mengembangkan teknologi baru, feminis berpendapat bahwa teknologi masih dipandang sebagai ciptaan maskulin. Misalnya, meskipun perempuan telah terlibat dalam pembuatan dan pengembangan komputer, kontribusi mereka sebagian besar terpinggirkan, dan partisipasi mereka seringkali diabaikan dan tidak ditulis dalam sejarah. Oleh karena itu, para feminis seperti Judy Wacjman, seorang profesor sosiologi the Australian National University di Canberra, dan Cynthia Cockburn, seorang sarjana independen dan aktivis di London, berpendapat bahwa teknologi perlu terus diinterogasi dan di rekonseptualisasikan, dan bahwa perempuan perlu menjadi lebih aktif dalam bidang dan memahaminya dengan baik.

Para cyberfeminis berpendapat, bahwa berbeda dengan kebanyakan teknologi yang didominasi oleh maskulinitas. New media menyediakan sebuah ruang untuk mereka untuk bisa berinteraksi secara aktif dengan teknologi, dengan kata lain, dalam pendapat para cyberfeminis, new media adalah teknologi yang memiliki sifat feminin, dibanding maskulin. Para cyberfeminis bahkan melihat new media sebagai ruang penting bagi perempuan untuk “mengklaim wilayah mereka”, dan menggunakan teknologi untuk mendapatkan kekuasaan dan otoritas dalam masyarakat kontemporer. Untuk tujuan ini, individu dan kelompok-kelompok menciptakan situs Web, menyelenggarakan kelompok diskusi, dan sumber-sumber online lainnya untuk perempuan tertarik untuk belajar lebih banyak tentang teknologi internet, dan juga untuk perempuan yang sudah bekerja di bidang teknologi informasi. Kelompok-kelompok ini percaya bahwa pemberdayaan perempuan dapat dicapai melalui pengetahuan perempuan yang lebih besar dari teknologi media baru, dan melalui penciptaan lebih banyak kesempatan untuk maju dalam lini  kerja.

Cyberfeminisme muncul dari penggunaan yang muncul dari penemuan new media dan teknologi komunikasi baru. Teknologi ini dianggap memiliki baik janji dan ancaman. Mereka menawarkan cara untuk membuka ruang dan komunikatif masyarakat, untuk terlibat dalam bermain dan politik dan untuk mengakses informasi dan membuat jaringan. Dengan kata lain, sebagai sebuah hasil interaksi antara new media dan perempuan, cyberfeminisme menyimpan banyak janji-janji dan harapan, disamping berbagai ancama yang kerap muncul dalam setiap interaksinya.

Feminis harus memanfaatkan cyberfeminisme, dan merayakannya sebagai sebuah ruang pembebasan. Karena cyberfeminisme menawarkan sebuah utopia mengenai pembebasan; pembebasan dari dominasi dan subordinasi, serta pembebasan dari teknologi yang dikuasai laki-laki. Visi pembebasan ini berawal dari citra mengenai cyborg, yakni terjadinya pengaburan batas-batas antara manusia dan mesin pada akhirnya akan membuat kategori laki-laki dan perempuan tidak terpakai, dan dengan demikian, membuka lebar jalan kepada sebuah dunia dengan kebebasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s