KOMUNIKASI DAN HUBUNGAN INTERPERSONAL

Apakah yang dimaksud dengan hubungan (relationship)? Terkadang istilah relationship digunakan sebagai cara membincangkan mengenai persahabatan yang sangat akrab (intim). Sebuah hubungan pada dasarnya melibatkan kedekatan emosional dan seksual (emotional and sexual intimacy). Hubungan juga juga digunakan secara lebih umum untuk merujuk kepada unit sosial one-to-one, seperti hubungan guru dengan murid, orang tua dan anak, pengusaha dan pekerja atau antara dokter dengan pasien.

Namun demikian, dalam artinya yang paling mendasarr, menurut Ruben dan Stewart sebuah hubungan dibentuk ketika terjadinya pengolahan pesan yang timbal balik, sebagaimana diungkapkan oleh Ruben dan Stewart “a relationship is formed whenever reciprocal processing occurs, that is, when two or more individuals mutually take account of and adjus to one another’s verbal or nonverbal behaviour” (2006 : 244). Dengan demikian, apa yang disebut sebagai hubungan interpersonal adalah hubungan yang berdasarkan pada pengolahan pesan yang timbal-balik (the reciprocal message processing). Hubungan interpersonal dalam kajian komunikasi biasa disebut sebagai komunikasi antarpribadi (interpersonal communication).

Agak sulit untuk mendefinisikan komunikasi antar pribadi, dikarenakan ada begitu banyak perspektif dalam melihat definisi. Namun demikian, cara paling mudah untuk mendefinisikan interpersonal communication, menurut Juliat T. Wood dalam bukunya “Interpersonal Communication: Everyday Encounters”, adalah dengan membedah makna katanya; kata “inter” yang berarti antara (between) dan “person” yang berarti manusia. Dengan demikian secara literal interpersonal communication berarti “communication between people” (Wood, 2010 : 19).

Definisi yang dikemukakan oleh Julia T. Wood diatas memang menimbulkan pertanyaan baru, bukankah setiap bentuk komunikasi selalu melibatkan manusia yang terlibat didalamnya, baik sebagai komunikator maupun komunikan? Yang dimaksudkan oleh Wood dalam definisi diatas sebenarnya adalah sebuah penegasan bahwa, disatu sisi, semua komunikasi selalu terjadi diantara orang-orang, namun demikian, hanya komunikasi antarpribadi yang melibatkan manusia secara pribadi (personally). Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa komunikasi antarpribadi bersifat personal dan bukan impersonal.

Sebagian besar komunikasi kita, menurut Julia T. Wood (2010 : 19), tidak benar-benar pribadi. Kadang-kadang kita tidak mengakui orang lain sebagai manusia sama sekali tetapi memperlakukan mereka sebagai obyek; dalam kasus lain, kita mengakui orang, namun kita berinteraksi dengan mereka dalam hal peran sosial mereka daripada pribadi. Misalkan, kita sedang lari pagi di komplek perumahan kita, dan kemudia terlibat pembicaan ringan mengenai cuaca dan keadaan kompleks dengan tetangga yang juga sedang lari pagi. Dalam interaksi seperti ini, kita mengakui satu sama lain sebagai manusia, tapi kita tidak mendapatkan bahwa komunikasi kita benar-benar bersifat pribadi.

Namun demikian, Julia T. Wood, menawarkan sebuah definisi komunikasi antarpribadi yang lebih lengkap, yaitu : “transaksi selektif, sistemik, unik, dan prosesual (adalah proses yang berkelanjutan) yang memungkinkan orang untuk mencerminkan dan membangun pengetahuan pribadi satu sama lain dan menciptakan makna bersama. (selective, systemic, unique, processual (is an ongoing process) transactions that allow people to reflect and build personal knowledge of one another and create shared meanings). Melalui definisinya ini, Wood memberikan pandangan mengenai konsep-konsep untuk dapat memahami komunikasi antarpribadi, yaitu

1.       Selective

Pada dasarnya setiap orang akan memilih dengan siapa dia akan berkomunikasi, kita tidak ingin berkomunikasi secara intim dengan semua orang yang kita temui, namun kita memilah-milah berdasarkan keinginan, kebutuhan dan kepentingan kita. Dalam beberapa kasus, misalkan, seringkali kita menolak panggilan telepon dari orang yang kita tidak ingin bicara dengannya; atau kita tidak mau menemui tamu yang datang kerumah atau ke kantor kita dengan satu atau beberapa alasan. Kita hanya mau membuka diri sepenuhnya pada beberapa orang yang memang kita pilih

2.      Systemic

Komunikasi antarpribadi juga bersifat sistemik, yang berarti bahwa komunikasi ini terjadi didalam berbagai sistem. Dalam model transaksional, komunikasi terjadi dalam konteks yang mempengaruhi atribusi peristiwa dan makna kita. Latar belakang sosial dan budaya, termasuk institusi pendidikan darimana kita berasal, sangat mempengaruhi, dapat disebut sebagai sistem. Masing-masing sistem mempengaruhi komunikasi kita, dan bagaimana kita menafsirkan dan mempersepsikan satu sama lain. Cara orang berkomunikasi juga berbeda-beda dalam berbagai budaya. Di Amerika utara, misalkan, setiap orang cenderung berkomunikasi secara tegas (assertively) dan melihat mata lawan bicara, sementa itu, pada kebanyakan masyarakat Asia ketegasan dan kontak mata dianggap kasar dan tidak sopan.

Karena komunikasi interpersonal bersifat sistemik; situasi, waktu, orang, budaya, pengalaman pribadi, dan sebagainya berinteraksi untuk mempengaruhi makna. Bukan hanya satu atau beberapa bagian dari sistem tersebut mempengaruhi komunikasi kita, namun semua bagian dari sistem yang berinteraksi mempengaruhi komunikasi kita. Dengan kata lain, setiap unsur sistem saling bergantung dan terkait dengan unsur lainya.

3.      Unique

Pada tingkat terdalam komunikasi interpersonal bersifat unik. Dalam hubungan yang yang lebih dari sekadar peran sosial, setiap orang adalah unik dan karena itu tak tergantikan. Kita bisa mengganti orang dalam sebuah hubungan dengan petugas customer service, atau bahkan kita bisa mengganti lawan dalam pertandingan bulu tangkis, namun kita tidak bisa menggantikan sebuah hubungan karib (intimates). Ketika kita kehilangan teman dekat, atau kekasih yang kita sayangi, kita mungkin bisa menemukan teman baru atau kekasih baru, tetapi hubungan ini tidak dapat dipertukarkan dengan teman atau kekasih kita yang telah pergi.

Sama seperti setiap orang yang bersifat unik, begitu juga setiap persahabatan ataupun hubungan romantis selalu bersifat unik. Masing-masing hubungan mengembangkan ritme dan pola tersendiri yang khas, dan bahkan kosa kata khusus yang diciptakan untuk sebuah hubungan tertentu.

4.      Processual

Komunikasi antarpribadi adalah proses yang berlangsung (ongoing) dan berkesinambungan (continous). Dengan demikian berarti, pertama, komunikasi akan terus berkembang dari waktu ke waktu, semakin lama akan semakin pribadi. Semakin lama kita kenal dengan seseorang, kemungkinan, kita akan semakin dekat dan semakin pribadi dengan orang lain. Meskipun, pada dasarnya sebuah hubungan tidak ditentukan oleh waktu, namun demikian seiring berjalannya waktu, sebuah hubungan akan lebih mudah berkembang menjadi hubungan yang dekat dan intim. Sebagai sebuah proses yang berlangsung (ongoing), komunikasi antarpribadi tidak memiliki batasan awal dan akhir yang jelas. Kita tidak pernah tahu kapan komunikasi dimulai dan akan berakhir? Meskipun tampaknya komunikasi dimulai ketika kita menyapa seseorang, namun mungkin saja pertemuan-pertemuan sebelumnya merupakan titik awal yang memungkinkan orang tersebut merasa nyaman untuk berkomunikasi dengan kita. Demikian pula, kita tidak tahu secara pasti kapan komunikasi akan berakhir, bisa jadi interaksi kita dengan seseorang telah berakhir, namun bukan berarti komunikasi telah berakhir.

5.      Transactional

Komunikasi antarpribadi adalah proses transaksi diantara orang-orang. Ketika kita berbicara dengan seorang teman, misalkan, kemudian teman kita tersenyum. Atau ketika kita atasan Anda menjelaskan sebuah ide, dan Anda mengangguk untuk menunjukkan bahwa Anda memahami. Dalam percakapan antarpribadi, semua pihak berkomunikasi secara kontinu dan bersamaan (simultaneously).

Karena sifatnya yang transaksional, maka setiap orang yang terlibat dalam sebuah percakapan berbagi tanggung jawab untuk membuat agar percakapan diantara mereka berjalan efektif, dengan demikian, komunikasi yang efektif dalam sebuah percakapan menjadi tanggung jawab setiap orang yang terlibat dalam percakapan tersebut, dan bukan menjadi beban satu orang saja. Mungkin kita pernah mendengar ucapan seperti ini : “kau tidak mengekspresikan dirimu dengan benar” atau “kamu salah paham”, seolah-olah pemahaman hanya disandarkan pada satu orang. Padahal, kenyataannya, tanggung jawab untuk komunikasi yang efektif dibebankan bukan hanya kepada komunikator, namun juga komunikan.

Mungkin kita pernah mengalami kesalahpahaman ketika mengirimkan pesan melalui email atau media-media online lainnya dikarenakan umpan balik (feedback) yang cenderung tertunda. Keterbatasan lain dari komunikasi online adalah ketidakmampuan untuk menyampaikan infleksi dan perilaku nonverbal, seperti mengedipkan mata, yang memberitahu kepada orang lain bahwa kita bercanda. Terkadang kita menambahkan emoticon, seperti: “;)” untuk mengirimkan emosi kita kepada orang lain secara online.

Joseph A. Devito menyarankan sebuah definisi yang berbeda. Dalam bukunya Human Communication, Devito memberikan tiga definisi dari perspektif yang berbeda mengenai komunikasi antarpribadi, yaitu

1.       Definisi Berdasarkan hubungan (componential)

Definisi berdasarkan komponen menjelaskan komunikasi antarpribadi dengan mengamati komponen-komponen utamanya – dalam hal ini, penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera.

2.      Definisi berdasarkan hubungan diadik (relational dyadic)

Dalam definisi berdasarkan hubungan diadik, kita mendefinisikan komunikasi antarpribadi sebagai komunikasi yang berlangsung di antara dua orang yang mempunyai hubungan yang mantap dan jelas. Jadi, misalnya, komunikasi antarpribadi meliputi komunikasi yang terjadi antara pramuniaga dengan pelanggan, anak dengan ayah, dua orang dalam sebuah wawancara, dan sebagainya. Dengan definisi ini, hampir tidak mungkin ada komunikasi diadik (dua orang) yang bukan komunikasi antarpribadi. Tidaklah mengherankan, definisi ini juga disebut sebagai definisi diadik (dyadic). Hampir tidak terhindarkan, selalu ada hubungan tertentu antara dua orang. Bahkan seorang asing di sebuah kota yang menanyakan arah jalan kepada seorang penduduk mempunyai hubungan yang jelas dengan penduduk itu segera setelah pesan pertema disampaikan

3. Definisi berdasarkan pengembangan (developmental)

Dalam ancangan pengembangan (developmental), komunikasi antarpribadi dilihat sebagai akhir dari perkembangan dari komunikasi yang bersifat tak-pribadi (impersonal) pada satu ekstrim menjadi komunikasi pribadi atau intim pada ekstrim yang lain. Perkembangan ini mengisyaratkan atau mendefinisikan pengembangan komunikasi antarpribadi. Dengan demikian dalam definisi ini, komunikasi antarpribadi ditandai oleh, dan dibedakan dari, komunikasi impersonal berdasarkan sedikitnya tiga faktor,

  • Prediksi berdasarkan data psikologis. Dalam interaksi antarpribadi kita bereaksi terhadap pihak lain berdasarkand ata psikologis. Dalam interaksi impersonal kita menanggapi orang lain berdasarkan data sosiologis, atau kelas dan kelompok dimana orang tersebut menjadi anggotanya.
  • Pengetahuan yang menjelaskan (explanatory knowledge). Dalam interaksi antarpribadi kita mendasarkan komunikasi kita pada pengetahuan yang menjelaskan tentang masing-masing dari kita. Bila anda mengenal seseorang tertentu, anda dapat menduga-duga bagaimana orang itu akan bertindak dalam berbagai situasi.
  • Aturan yang ditetapkan secara Pribadi. Masyarakat menetapkan aturan-aturan interaksi dalam situasi tak pribadi (impersonal). Disini, setiap orang yang berkomunikasi, berprilaku satu terhadap yang lain menurut aturan (adat kebiasaan) sosial yang ditetapkan oleh budaya. Tetapi, bila hubungan seseorang dengan orang lain bersifat antarpribadi, adat kebiasaan, sosial dan kultural menjadi tidak penting. Individu lah yang menetapkan aturan. Sejauh individu ini menetapkan aturan untuk saling berinteraksi satu sama lain dan tidak menggunakan aturan yang ditetapkan oleh masyarakat mereka, situasinya bersifat antarpribadi (personal)

Setiap orang perlu belajar untuk dapat menciptakan sebuah proses komunikasi antarpribadi yang efektif, untuk itu dibutuhkan apa yang disebut sebagai kompetensi komunikasi antarpribadi (interpersonal communication competence). Julia T. Wood, mendefinisikan kompetensi komunikasi antarpribadi sebagai  sebagai kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dan tepat. Efektifitas melibatkan pencapaian tujuan yang kita miliki untuk interaksi tertentu. (as the ability to communicate effectively and appropriately. Effectiveness involves achieving the goals we have for specific interactions). Dalam situasi yang berbeda situasi, tujuan kita berkomunikasi mungkin untuk menjelaskan ide, untuk menghibur teman, untuk menegosiasikan kenaikan gaji, atau membujuk seseorang untuk mengubah perilaku. Semakin efektif kita berkomunikasi, semakin besar kemungkinan kita untuk menjadi kompeten dalam mencapai tujuan yang kita harapkan.

Disisi lain, menurut Wood, kompetensi juga menekankan kesesuaian. Ini berarti bahwa komunikasi yang kompeten disesuaikan dengan situasi dan orang-orang tertentu. Kita, misalkan, harus menyesuaikan bahasa yang akan kita gunakan dalam sebuah percakapan; bahasa yang kita gunakan dalam sebuah pertemuan informil dengan kawan-kawan mungkin tidak cocok untuk digunakan dalam wawancara kerja. Kesesuaian (Appropriateness) juga melibatkan konteks.  Lebih jauh, Julia T. Wood menyebutkan lima keterampilan yang terkait dengan kompetensi dalam komunikasi interpersonal :

1. Kembangkan berbagai ketrampilan komunikasi (Develop a Range of Skills)

Tidak ada gaya tunggal komunikasi yang terbaik dalam s egala macam situasi, dengan semua orang atau untuk semua tujuan. Karena apa gaya yang efektif itu sangat beragam, kita perlu memiliki ragam yang luas dalam memahami perilaku komunikasi. Kita harus memiliki ketrampilan yang berbeda yang diperlukan untuk kompetensi komunikasi interpersonal yang dapat dipergunakan dalam berbagai situasi.

Untuk membuat seseorang menjadi nyaman, kita harus menyenangkan (sooting) dan penuh kasih sayang (compassionate). Untuk menegosiasikan kesepakatan yang baik, kita harus bersikap tegas (assertive). Untuk ikut terlibat secara konstruktif dalam meredakan konflik, kita perlu mendengarkan dan membangun iklim yang mendukung. Untuk mendukung teman yang sedang depresi, kita perlu untuk menegaskan kepada orang itu bahwa kita peduli, dan mendorongnya untuk berbicara tentang masalahnya. Untuk membangun hubungan kerja yang baik, kita perlu tahu bagaimana berkomunikasi untuk mendukung, bagaimana mengekspresikan ide-ide kita dengan jelas, dan bagaiamana mendengarkan dengan baik. Untuk itu semua kita perlu mempelajari berbagai kompetensi komunikasi, agar komunikasi kita dapat berjalan secara efektif.

2.      Beradaptasi dalam komunikasi dengan tepat (Adapt Communication Appropriately)

Kemampuan untuk berkomunikasi dalam berbagai cara tidak membuat kita menjadi ahli dalam berkomunikasi, kecuali kita juga tahu jenis (gaya) komunikasi yang digunakan dalam interaksi tertentu. Misalnya, mengetahui bagaimana untuk menjadi tegas dan hormat, pengetahuan tersebut tidak akan berguna kecuali kita bisa mengetahui kapan masing-masing gaya komunikasi tersebut digunakan. Meskipun tidak ada rumusan pasti bagaimana beradaptasi komunikasi secara tepat, namun hal ini penting untuk mempertimbangkan tujuan pribadi, konteks, dan dengan siapa kita berkomunikasi.

Pada akhirnya, semua tindakan dalam kegiatan komunikasi kita ditentukan oleh tujuan komunikasi kita. Tujuan komunikasi menjadi acuan utama untuk memilih perilaku yang sesuai. Jika tujuan kita dalam percakapan adalah untuk memberikan dukungan emosional kepada seseorang, maka tidak efektif jika kita berbicara panjang lebar tentang pengalaman kita sendiri. Namun demikian, jika kita ingin agar seseorang memahami kita dengan lebih baik, mungkin akan sangat efektif jika kita berbicara secara mendalam tentang kehidupan kita.

3.      Terlibat dalam Perspektif Ganda (Engage in Dual Perspective)

Yang terpenting dalam kometensi komunikasi antrapribadi adalah kemampuan untuk terlibat dalam perspektif ganda, yaitu kita dapat memahami baik sudut pandang kita maupun perspektif, perasaan, keyakinan dan pikiran orang lain. Ketika menerapkan perspektif ganda, kita memahami bagaimana orang lain berpikir dan merasakan mengenai masalah yang ada. Untuk mencapai sebuah dialog yang tulus, kita harus mampu menyadari bagaimana orang itu memandang dirinya sendiri, situasi serta pikiran dan perasaannya sendiri. Kita mungki punya sudut pandang yang berbeda dengan orang tersebut, dan mungkin ingin mengekspresikan persepsi kita, namun kita juga perlu memahami dan menghormati sudut pandang orang lain.

Orang yang tidak bisa menghormati perspektif orang lain dapat disebut sebagai “egosentris”. Mereka memaksakan persepsi mereka kepada orang lian dan menafsirkan pengalaman orang lain dari sudut pandang mereka.

4.      Memantau Komunikasi Anda (monitor your communication)

Kemampuan keempat yang mempengaruhi kompetensi komunikasi interpersonal adalah pemantauan (monitoring), yang merupakan kemampuan untuk mengamati dan mengatur komunikasi kita. Sebagian dari kita mungkin kerap kali melakukan hal ini. Ketika membawakan sebuah topik sensitif, kita mengingatkan diri kita sendiri untuk tidak bersikap defensif dan tidak ingin membawanya ke dalam debat yang kontraproduktif. Pemantauan dapat dilakukan baik sebelum maupun selama interaksi. Seringkali, sebelum percakapan kita menunjukkan kepada diri kita apa yang akan kita lakukan dan tidak ingin dilakukan. Ketika berkomunikasi, kita tetap waspada sambil menyunting (edit) pikiran kita sebelum diungkapkan kepada lawan bicara. Komunikasi melalui media online menawarkan kepada kita cara yang sangat efektif untuk memantau komunikasi kita. Kita bisa menyimpan pesan, membaca kembali untuk melihat apakah pesan yang kita tulis benar-benar mengungkapkan tujuan kita, dan mengeditnya sebelum mengirim kepada penerima. Kemampuan kita untuk memonitor komunikasi memungkinkan kita untuk beradaptasi dengan tindakan komunikasi kita dan mengukur efektifitas saat kita berinteraksi.

5. Berkomitmen untuk komunikasi yang efektif dan beretika (Commit to Effective and Ethical Communication)

Terakhir, untuk mencapai sebuah kompetensi interpersonal adalah dengan komitmen untuk komunikasi yang efektif dan beretika. Komitmen ini mengharuskan kita untuk meluangkan waktu dalam berkomunikasi secara etis dengan orang lain sebagai manusia yang unik. Ini berarti bahwa kita tidak bisa memperlakukan orang lain hanya sebagai anggota kelompok tertentu, namun kita harus memperlakukan mereka sebagai pribadi yang unik dan berharga, dengan demikian kita juga tidak bisa mengabaikan perasaan mereka. Kita juga harus menghormati apa yang diungkapkan orang lain kepada kita, bahkan jika itu berbeda dengan sudut pandang kita.

Sebuah komitmen untuk komunikasi yang efektif dan beretika juga mengharuskan kita untuk menghoormati dan menghargai perasaan dan pikiran diri kita sendiri. Sebagaimana kita harus menghormati orang lain, kita juga harus menghormati diri kita dan perspektif kita sendiri. Akhirnya

Tahap selannjutnya setelah seseorang menguasai kompetensi komunikasi antarpribadi (interpersonal communication competence), adalah terbinanya sebuah hubungan seperti yang diharapkan. Namun demikian, menurut Joseph Devito, kebanyakan hubungan terbina melalui tahapan-tahapan yang harus dilalui. Kita, misalkan, perlu tahapan agar pertemuan kita dengan seseorang dapat berlanjut ke hubungan selanjutnya, apakah menjadi kawan akrab atau hubungan  kekasih. Dan hal ini tidak terjadi segera setelah pertemuan, kita menumbuhkan keakraban secara bertahap, melalui serangkaian langkah atau tahap.

Devito (1997 : 233) memberikan gambaran tahapan hubungan melalui “model hubungan lima tahap” yang menguraikan tahap-tahap penting dalam pengembangan hubungan. Kelima tahap itu adalah :

1. Kontak (contact)

Pada tahap pertama kita membuat kontak. Ada beberapa macam persepsi alat indera. Kita melihat, mendengar, dan membaui seseorang. Menurut beberapa peneliti, selama tahap inilah – dalam empat menit pertama interaksi awal – kita memutuskan apakah kita ingin melanjutkan hubungan ini atau tidak. Pada tahap inilah penampilan fisik begitu penting, karena dimensi fisik paling terbuka untuk diamati secara mudah. Namun demikian, kualitas-kualitas lain seperti sikap bersahabat, kehangatan, keterbukaan dan dinamisme juga terungkap pada tahap ini. Jika kita menyukai orang ini dan ingin melanjutkan hubungan kita berlanjut ke tahap kedua

2. Keterlibatan (involvement)

Tahap keterlibatan adalah tahap pengenalan lebih jauh, ketika kita ingin mengikatkan diri kita untuk lebih mengenal orang lain dan juga mengungkapkan diri kita. Jika ini adalah hubungan yang bersifat romantik (kekasih), mungkin kita melakukan kencan pada tahap ini. Jika ini merupakan hubungan persahabatan, kita mungkin melakukan sesuatu yang menjadi minat bersama – pergi ke bioskop atau nonton konser musik bersama-sama.

3. Keakraban (intimacy)

Pada tahap keakraban, kita mengikatkan diri kita lebih jauh  pada orang ini. Kita mungkin membina hubungan primer (primary relationship), dimana orang ini menjadi sahabat baik atau menjadi kekasih. Komitmen ini dapat mempunyai berbagai bentuk : perkawinan, membantu orang ini, atau kita mengungkapkan rahasia terbesar kita kepada orang ini. Tahap ini hanya disediakan untuk sedikit orang saja – kadang-kadang hanya satu, kadang dua, tiga atau empat orang saja. Jarang sekali orang mempunyai lebih dari empat orang sahabat akrab, kecuali, tentu saja, dalam keluarga.

4.      Perusakan (deterioration)

Dua tahap berikutnya merupakan penurunan hubungan, ketika ikatan di antara kedua pihak mulai melemah. Pada tahap perusakan kita mulai merasa bahwa hubungan ini mungkin tidaklah sepenting yang kita kira sebelumnya. Kita berdua mulai semakin jauh, makin sedikit waktu senggang yg dilalui bersama. Kalaupun kita saling bertemu, hanya berdiam diri tak bicara untuk mengungkapkan diri. Jika tahapan ini berlanjut, kita memasuki tahap pemutusan.

5. Pemutusan (dissolution)

Tahap pemutusan adalah pemutusan ikatan yang mepertalikan kedua pihak. Jika bentuk ikatan itu adalah perkawinan, pemutusan hubungan dilambangkan dengan perceraian, walaupun pemutusan hubungan aktual dapat berupa hidup berpisah. Adakalanya terjadi peredaan; kadang-kadang ketegangan dan keresahan makin meningkat – saling tuduh, permusuhan, dan marah-marah terus terjadi. Dalam bentuk materi, inilah tahap ketika harta kekayaan dibagi dan pasangan suami-isteri saling berebut hak pemeliharaan anak. Tetapi ini pula saatnya bagi keduanya untuk membina hidup baru.

Dalam pengembangan hubungan mulai dari tahap kontak sampai keakbaran, salah satu variabel yang paling penting dan paling banyak ditelaah adalah daya tarik (attraction). Apa yang membuat kita tertarik kepada orang-orang tertentu dan tidak kepada yang lain? Mengapa orang tertentu tertarik kepada kita dan bukannya kepada orang lain? Joseph Devito (1997 :238-241) mengemukakan lima faktor utama yang mempengaruhi daya tarik antarpribadi, yaitu :

1. Daya tarik fisik dan kepribadian

Bila kita mengatakan “saya merasa orang itu menarik”, barangkali yang kita maksudkan bahwa orang itu menarik secara fisik atau kepribadian atau mungkin cara berprilakunya menarik. Kebanyakan dari kita lebih menyukai orang yang secara fisik menarik ketimbang yang secara fisik tidak menarik, dan kita lebih menyukai orang yang memiliki kepribadian menyenangkan ketimbang yang tidak.

Umumnya, kita melekatkan karakteristik-karakterisktik positif kepada orang yang menurut kita menarik dan karakteristik-karakteristik negatif kepada orang yang kita anggap tidak menarik. Jika kita diminta untuk menduga-duga mengenai kualitas yang dimiliki seseorang yang belum kita kenal, barangkali kita akan mengemukakan kualitas yang positif jika kita merasa bahwa orang itu menarik, dan karakter negatif jika kita menganggap orang itu tidak menarik. Sejumlah besar penelitian telah memperkuat dugaan ini. Dalam satu telaah, misalnya, psikolog-psikolog pria muda yang dilatih menjadi ahli terapi memberikan sambutan dan dukungan lebih hangat kepada wanita yang menarik ketimbang kepada wanita yang tidak menarik.

2.      Kedekatan (proximity)

Jika kita mengamati orang yang menurut kita menarik, mungkin kita menjumpai bahwa mereka adalah orang-orang yang tinggal atau bekerja dekat kita. Ini barangkali merupakan satu temuan yang paling sering muncul dari riset tentang daya tarik antarpribadi. Dalam salah satu telaah yang paling terkenal, Leon Festinger, Stanley Schachter, dan Kurt Back meneliti persahabatan di kompleks asrama mahasiswa. Mereka menemukan bahwa perkembangan persahabatan dipengaruhi oleh jarak antara unit-unit dimana mereka tinggal. Makin berdekatan kamar mahasiswa, makin besar kesempatan mereka menjadi sahabat. Mahasiswa yang menjadi sahabat adalah mereka yang mempunyai kesempatan terbesar untuk saling berinteraksi. Seperti mungkin telah diduga, jarak fisik paling penting pada tahap-tahap awal interaksi. Sebagai contoh, selama hari-hari pertama kuliah, kedekatan (proximity), baik dikelas maupun di asrama, sangat penting. Pengeruh kedekatan ini berkurang dengan meningkatnya peluang untuk berinteraksi dengan mereka yang berjarak lebih jauh.

3.      Pengukuhan

Kita menyukai orang yang menghargai atau mengukuhkan kita. Penghargaan atau pengukuhan dapat bersifat sosial (misalnya pujian) atau bersifat material (misalnya, hadiah atau promosi). Tetapi penghargaan dapat berakibat sebaliknya. Bila berlebihan, penghargaan kehilangan efektifitasnya dan dapat menimbulkan reaksi negatif. Orang yang terus menerus memberikan penghargaan kepada kita dengan segera membuat kita waspada, dan pada kahirnya kita mulai berhati-hati dengan apa yang dikatakannya. Juga, agar efektif, penghargaan harus tulus dan tidak didasari oleh kepentingan pribadi.

4.      Kesamaan (smilarity)

Jika orang dapat membuat konstruksi sahabat mereka, sahabat ini akan terlihat, bertindak, dan berpikir sangat mirip dengan mereka sendiri. Dengan tertarik kepada orang yang seperti kita, kita membenarkan diri kita sendiri. Kita mengatakan kepada diri sendiri bahwa kita pantas disukai dan kita ini menarik. Walaupun ada pengecualian, kita umumnya menyukai orang yang sama dengan kita dalam hal kebangsaan, suku bangsa, kemampuan, karakteristik fisik, kecerdasan dan – khususnya – sikap dan selera. Makin penting sikap, makin penting kesamaan, perkawinan antara dua orang yang perbedaan sikapnya besar, misalnya, lebih mungkin berakhir dengan perceraian ketimbang perkawinan antara dua orang yang sangat bermiripan.

5.      Sifat saling melengkapi (complementary)

Walaupun banyak orang berpendapat bahwa “orang-orang yang mempunyai kepentingan yang sama akan bersatu”, ada pula orang lain yang berpendapat bahwa “kutub yang berlawanan saling tarik menarik”. Ancangan yang terakhir ini mengikuti prinsip saling melengkapi (complementarity). Sebagai contoh, misalnya, seseorang yang sangat dogmatis. Apakah orang ini akan tertarik kepada orang lain yang juga dogmatis atau ia akan tertarik kepada orang yang tidak dogmatis? Prinsip kesamaan (similarity) meramalkan bahwa orang ini akan tertarik kepada mereka yang mirip denganya (artinya, sangat dgomatis). Prinsip komplementaritas meramalkan bahwa orang ini akan tertarik kepada mereka yang tidak serupa dengannya (tidak dogmatis).

Barangkali tidak ada yang lebih penting bagi kita selain kontak atau hubungan dengan sesama manusia. Begitu pentingnya kontak ini sehingga bila kita tidak berhubungan dengan orang lain dalam waktu yang lama, rasa tertekan akan timbul, rasa ragu terhadap diri sendiri muncul, dan orang merasa sulit untuk menjalani kehidupannya sehari-hari. Namun demikian, sebagaimana dicatat oleh Devito, sedikitnya ada lima alasan yang membuat orang-orang berupaya untuk mengembangkan hubungannya, alasan tersebut adalah :

1. Mengurangi kesepian

Kontak dengan sesama manusia mengurangi kesepian. Adakalanya kita mengalami kesepian karena secara fisik kita sendirian, walaupun kesendirian tidak selalu berarti kesepian. Kali lain kita kesepian karena, meskipun mungkin kita bersama orang lain, kita mempunyai kebutuhan yang terpenuhi akan kontak dekat – kadang-kadang secara fisik, adakalanya secara emosional, dan lebih sering lagi kedua-duanya.

Sementara banyak orang, dalam upaya mengurangi kesepian, berusaha melingkungi dirinya dengan banyak kenalan. Kadang-kadang ini membantu, tetapi seringkali malah membuat rasa sepi makin parah. Satu hubungan yang dekat biasanya malah lebih baik. Kebanyakan dari kita mengetahui hal ini, dan itulah sebabnya kita berusaha membia hubungan antarpribadi.

2. Mendapatkan rangsangan (stimulasi).

Manusia membutuhkan stimulasi. Jika kita tidak menerima stimulasi, kita mengalami kemunduran dan bisa mati. Kontak antarmanusia merupakan salahsatu cara terbaik untuk mendapatkan stimulasi ini. Kita merupakan gabungan dari banyak dimensi yang berbeda-beda, dan semua dimensi kita membutuhkan stimulasi. Kita adalah makhluk intelektual, dan karenanya kita membutuhkan stimulasi intelektual. Kita membicarakan gagasan, mengikuti kegiatan dikampus, dan berdiskusi mengenai banyak hal. Dengan cara itu kita mengasah kemampuan penalaran, analitik, dan interpretasi kita. Dengan melakukannya, kita meningkatkan, mempertajam, dan mengembangkan kemampuan-kemampuan ini.

3. Mendapatkan pengetahuan diri (self-knowledge)

Sebagian besar melalui kontak dengan sesama manusialah kita belajar mengenai diri kita sendiri. Dalam diskusi tentang kesadaran-diri telah dijelaskan bahwa kita melihat diri sendiri sebagian melalui mata orang lain. Jika kawan-kawan kita melihat kita sebagai orang yang hangat dan pemurah, misalnya, barangkali kita juga akan memandang diri sendiri sebagai hangat dan pemurah. Persepsi-diri kita sangat dipengaruhi oleh apa yang kita yakini dipikirkan orang tentang diri kita.

4. Memaksimalkan kesenangan, menimalkan penderitaan

Alasan paling umum untuk membina hubungan, dan alasan yang dapat mencakup semua alasan lainnya, adalah bahwa kita berusaha berhubungan dengan manusia lain untuk memaksimalkan kesenangan kita dan meminimalkan penderitaan kita. Kita perlu berbagi rasa dengan orang lain mengenai nasib baik kita serta mengenai penderitaan emosi atau fisik kita. Barangkali kebutuhan yang terakhir ini bermula dimasa kanak-kanak, ketika kita berlari mendekati ibu sehingga ibu kita dapat mengusap luka atau ikut menikmati kegembiraan kita. Sekarang tentu sulit untuk berlari mendekati ibu, karenanya kita mencari orang lain, umumnya kawan-kawan yang akan memberikan dukungan yang sama seperti yang pernah dilakukan ibu diwaktu yang lalu.

2 Comments Add yours

  1. Laras mengatakan:

    Daftar pustakanya ga ada ya? mohon jika berkenan untuk dapat dilampirkan juga daftar pustakanya🙂 Terima kasih.

    1. Salim Alatas mengatakan:

      Mbak Laras, nanti saya bantu kirimkan daftar pustakanya lewat Email…terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s