MEMAHAMI KOMUNIKASI MANUSIA

Manusia adalah makhluk sosial yang tergantung satu sama lain serta saling terkait dengan orang lain di lingkungannya. Satu-satunya alat untuk dapat berhubungan dengan  orang lain di lingkungannya adalah komunikasi, baik secara verbal maupun non verbal. Melalui komunikasi kita berbicara dengan diri kita sendiri, mengenal serta mengevaluasi diri sendiri; melalui komunikasi kita berkenalan serta berinteraksi dengan orang lain, dan mengungkapkan perasaan kita terhadap orang lain; dan melalui komunikasi kita memecahkan segala macam persoalan, mengembangkan gagasan baru, serta berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan orang lain.

Secara umum, komunikasi dapat dimaknai sebagai proses pengiriman (transmits) informasi untuk merubah perilaku individu lain (the audience). Komunikasi adalah keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, di mana dapat kita lihat komunikasi terjadi pada setiap gerak langkah manusia. Komunikasi amat esensial dalam buat pertumbuhan kepribadian manusia. Para ahli ilmu sosial  telah berkali-kali mengungkapkan bahwa kurangnya komunikasi akan menghambat perkembangan kepribadian. Ashley Montagu, seorang Antropolog yang cukup terkenal, dengan tegas menulis : “the most important agency through which the child learns to be human is communication, verbal also nonverbal”. (Rakhmat, 1993 : 2)

Tapi seringkali orang bertanya, untuk apa kita belajar “berkomunikasi”, bukankah sejak lahir kita sudah diajarkan berkomunikasi? Bukankah komunikasi sudah kita terima begitu saja (taken for granted) dari orang tua kita?

Komunikasi ada dimana-mana. Dengan komunikasi kita saling membentuk pengertian, menumbuhkan persahabatan, memelihara persahabatan, memelihara kasih sayang, menyebarkan pengetahuan, dan melestarikan peradaban.  Tetapi dengan komunikasi kita juga menyuburkan perpecahan, menghidupkan permusuhan, menanamkan kebencian, merintangi kemajuan, dan menghambat pemikiran. Begitu penting, begitu meluas, dan begitu akrab komunikasi dengan diri kita sehingga kita semua merasa tidak perlu lagi mempelajari komunikasi. Hubungan kita dengan sesama manusia dapat ditingkatkan dengan memahami dan memperbaiki komunikasi yang kita lakukan. Sesuai dengan fungsi komunikasi yang spesifik, yaitu hubungan yang harmonis, yang bermanfaat dan dapat meningkatkan kehidupan serta martabat manusia. Komunikasi adalah ketrampilan atau tingkah laku yang diperoleh atau dipelajari dan karena itu dapat dirubah dan diperbaiki.

Richard West dan Lynn Turner dalam bukunya Introducing Communication Theory (2010) menyatakan bahwa : However, we need to understand the whys and hows of our conversations with others. For instance, why do two people in a relationship feel a simultaneous need for togetherness and independence? Why do some women feel ignored or devalued in conversations with men? Why does language often influence the thoughts of others? How do media influence people’s behavior? These and many other questions are at the root of why communication theory is so important in our society and so critical to understand” (West dan Turner, 2010 : 4)

Pentingya komunikasi bagi kehidupan social, budaya, pendidikan, dan politik sudah disadari oleh cendikiawan sejak Aristoteles yang hidup ratusan tahun sebelum Masehi,  akan tetapi studi Aristoteles berkisar pada retorika dalam lingkungan kecil. Di antara para ahli sosiologi, ahli Psikologi dan ahli politik di Amerika Serikat yang menaruh minat pada perkembangan komunikasi adalah Carl I. Hovland yang namanya telah disinggung diatas. Menurutnya, Ilmu Komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegas asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap. Definisi ini menunjukkan bahwa yang dijadikan objek studi studi ilmu komunikasi bukan saja penyampaian informasi, melainkan juga pembentukan pendapat umum dan sikap publik  yang dalam kehidupan social dan kehidupan politik memainkan peranan yang amat penting. Secara sosiologis, eksistensi manusia adalah eksistensi kebersamaan dan hubungan kebersamaan ini tidak lain hanya mungkin diwujudkan lewat berkomunikasi. Dengan komunikasi manusia mencoba mengekspresikan keinginannya dan dengan komunikasi itu pula manusia melaksanakan kewajibannya. Itulah sebabnya Wilbur Schramm memberikan predikat manusia sebagai The Communicating animal, artinya tanpa komunikasi, maka manusia jatuh derajatnya pada tingkat yang rendah artinya dengan memanipulir komunikasi itulah, manusia bisa saja jatuh kepada derajat  yang lebih rendah dari sekedar predikat animal. Dalam proses kebersamaan tersebut, sebenarnya yang terjadi adalah proses saling mempengaruhi dimana sseseorang memberi dan menerima idea-idea, gagasan-gagasan yang dituangkan dalam lambang-lambang tertentu yang sudah diberi pengertian yang sama

Komunikasi adalah suatu hal yang sangat kompleks dan merupakan kegiatan yang menantang (challenging activity), demikian rumitnya, hampir setiap orang pernah mengalami mengalami kegagalan dalam berkomunikasi (miskomunikasi). Terlebih saat ini kita telah memasuki sebuah era yang disebut sebagai “masyarakat informasi” (Information society), yaitu sebuah era dimana masyarakat telah menjadikan komunikasi melalui proses pengiriman informasi sebagai sebuah komoditas kepentingan-kepentingan ekonomi. Dengan demikian, dalam era masyarakat informasi, keahlian komunikasi adalah kemampuan yang mutlak dimiliki banyak orang agar bisa siap menghadapi dunia yang menjadikan komunikasi sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Maka bermunculan begitu banyak profesi dalam bidang komunikasi, hampir semua bidang pekerjaan membutuhkan orang-orang yang memiliki skill komunikasi. Mulai dari public relation officer, trainer, motivator, editor, jurnalis, analis media, reporter, programmer TV, media researcher, Media Planner, public speaker. Ataupun pekerjaan-pekerjaan yang lebih berkaitan dengan dunia akademis, seperti dosen dan peneliti, yang memang membutuhkan para ahli di bidang ilmu komunikasi.

Brent Ruben dalam buku “Communication and Human Behavior” (2006 : 3-9) menyebutkan beberapa aspek yang membuat komunikasi menjadi penting – untuk tidak mengatakan yang terpenting – dalam kehidupan kita, dan yang menjadi alasan kenapa setiap orang harus mempelajari ilmu komunikasi:

  1. Communication is fundamental to Our Lives
  2. Communication is Complex
  3. Communication is Vital to Occupational effectiveness
  4. A good education does not ensure good communication competence
  5. Communication is a popular and vibrant field st

 

 

DEFINISI DAN RUANG LINGKUP ILMU KOMUNIKASI

Dari segi bahasa, “komunikasi” atau “communication” berasal dari kata Latin “communisyang berarti sama, communico, communication, atau communicare yang berarti membuat sama (to make common)  (Lihat Dedy Mulyana, 2005 : 41). Definisi dari segi bahasa ini menyatakan bahwa suatu komunikasi yang efektif hanya dapat tercapai apabila terjadi kesamaan makna antara komunikator dengan komunikan. Makna lain yang mirip dengan komunikasi, menurut Mulyana (2005 : 42), adalah community (komunitas) yang juga menekankan kesamaan atau kebersamaan. Komunitas merujuk pada sekelompok orang yang berkumpul atau hidup bersama untuk mencapat tujuan tertentu, dan mereka berbagi makna dan sikap.

Dalam defenisi tersebut termaktub bahwa orang yang menyampaikan dan orang yang menerima mempunyai persepsi yang sama tentang apa yang disampaikan,dengan kata lain sama  disini maksudnya adalah sama makna.  Jadi apabila ada dua orang terlibat dalam komunikasi misalnya dalam bentuk percakapan maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan. Percakapan kedua orang tadi dapat dikatakan komunikatif apabila kedua-duanya selain mengerti bahasa yang dipergunakana juga mengerti makna dari bahasa yang dipercakapkan.

Namun, ketika ditanyakan tentang apa yang dimaksud dengan komunikasi?, kebanyakan orang akan menjawab pertanyan tersebut secara sederhana dan membatasinya hanya pada aktifitas talking-listening. Tetapi sesungguhnya, komunikasi jauh lebih luas dari sekadar talking-listening, komunikasi mengacu pada keseluruhan tindakan pengiriman pesan dari pengirim (komunikator) kepada penerima (komunikan). Terjadinya kesalahpahaman tersebut, menurut Dedy Mulyana (2005 : 41), karena istilah komunikasi sudah sedemikian lazim dalam kehidupan setiap orang, sehingga masing-masing orang mengartikannya secara berlainan. Oleh karena itu cara pertama yang harus ditempuh sesorang ketika belajar komunikasi adalah dengan definisi.

Kesulitan pertama yang langsung menghadang ketika orang ingin mendefinisikan kata “komunikasi” adalah kerumitan dan kompleksitas maknanya. Ada begitu banyak definisi komunikasi yang dikemukan oleh para ahli dari berbagai bidang ilmu. Frank Dance dari Denver University, misalkan, 40 tahun yang lalu telah mencatat bahwa ada 120-an definisi komunikasi (lihat Griffin, 2012 : 6), yang saat ini pasti telah berjumlah jauh lebih banyak dari yang pernah dihitung oleh Dance. Namun demikian menurut Griffin (2012 : 6), dari sekian banyak definisi yang dikemukakan oleh para sarjana ilmu komunikasi tersebut belum ada sebuah definisi yang menonjol dan menjadi standar dalam kajian ilmu komunikasi.

Kesulitan lain yang mungkin muncul adalah karena ada banyak cara untuk menafsirkan dan mendefinisikan kata komunikasi. Richard West dan Lynn Turner dalam bukunya Introducing Communication Theory (2010 : 5)) mengatakan “We should note that there are many ways to interpret and define communication—a result of the complexity and richness of the communication discipline”. Hal ini, menurut West dan Turner, terjadi karena para sarjana ilmu komunikasi cenderung melihat fenomena komunikasi manusia (human communication) dari perspektif mereka sendiri, sehingga kita akan melihat begitu banyak perspektif dalam bidang ini yang pada akhirnya akan membuatnya menjadi sebuah disiplin yang kaya dan kompleks.

Sebagaimana dikemukakan diatas, ada banyak cara untuk mendefinisikan komunikasi. Cara termudah untuk berpikir tentang komunikasi, menurut Hair dan Eadie (2009 : 4) adalah melalui makna bersama (common meaning) dalam beberapa bahasa: yakni sebagai transportasi, atau sarana untuk menyampaikan pesan dari satu titik ke titik lain. Bahkan, beberapa model awal komunikasi menekankan komunikasi sebagai alat mekanis untuk menggerakkan pesan (mechanical means of moving a message). Harold D. Lasswell  menggambarkan komunikasi sebagai Who? Says What? To Whom? With What Effect?”, sebuah pandangan yang linear dan mekanis mengenai komunikasi. Definisi lain dikemukakan oleh Claude Shannon dan Warren Weaver, yang menggambarkan komunikasi sesuai dengan cara kerja telepon, yang menunjukkan bahwa sumber pesan disandikan (encode) dan sinyal ditransmisikan melalui saluran ke perangkat yang menerjemahkan sinyal dan membuatnya keluar dari penerima dalam bentuk pesan asli. (Hair dan Eadie : 2009 : 6). Definisi lain yang melihat komunikasi sebagai sebuah proses satu arah dikemukakan oleh Carl I. Hovland, seorang pengajar di Yale University, bahwa komunikasi adalah The process by wich an individual transmits stimuli to modify the behaviour of other individuals. Dengan demikian komunikasi pada awal perkembangannya lebih di dominasi oleh pandangan yang melihatnya sebagai sebuah proses yang linear, satu arah (one way) dan mekanis.

Dominannya pandangan “satu arah” pada masa-masa awal komunikasi disebabkan karena pada awal perkembangannya masyarakat AS pada tahun 1930-an dihadapkan pada isu menghadapi Perang Dunia II dan adanya ancaman dari Nazi Jerman. Pemerintah AS membutuhkan dukungan publik untuk menghadapi peperangan, maka ketika itu kajian tentang propaganda dan opini publik menjadi penting (Antoni, 2004 : 4). Dalam konteks ini kita melihat bahwa dominanya pandangan “satu arah” lebih disebabkan karena alasan-alasan politis, bahwa pandangan komunikasi “satu arah” sangat bermanfaat dalam mempengaruhi opini publik dan psikologi massa melalui propaganda.

Harus diakui meskipun perspektif “satu arah” cukup dominan pada masa awal perkembangan kajian komunikasi, namun bukan merupakan satu-satunya perspektif. Ada begitu banyak perspektif dalam melihat, mengkonstruk dan mendefinisikan ilmu komunikasi.

Em Griffin dalam bukunya “The First Look at Communication Theory” (2012 : 6) mencoba menawarkan sebuah definisi “Communication is the relational process of creating an interpreting messages that elicit a response”. Dalam definisinya ini, Griffin mencoba untuk menggambarkan komunikasi melalui beberapa komponen, yakni :

1.       Pesan (messages)

Pesan merupakan inti dari kajian ilmu komunikasi. Komunikasi apapun yang kita lakukan: talking-listening; writing-reading; performing-witnessing; atau, yang lebih umum, “melakukan apa pun” selalu melibatkan ‘pesan’ melalui berbagai media atau kondisi tertentu.

2.      Menciptakan pesan (creation of messages)

Dalam konteks ini, isi dan bentuk teks biasanya dibangun (constructed), diciptakan (invented), direncanakan (planned), dibuat (crafted), dibentuk (constituted), dipilih (selected) dan diadopsi (adopted) oleh komunikator.

3.      Menafsirkan Pesan (interpretation of messages)

Pesan tidak menafsirkan dirinya sendiri, maksudnya adalah makna sebuah kata atau kalimat tidak berada pada kata-kata yang diucapkan atau ditulis, namun berada pada interpretasi atau penafsiran masing-masing peserta komunikasi. Sehingga ada adigium yang berkembang di kalangan sarjana komunikasi, bahwa kata-kata tidak memiliki makna, manusia yang memberinya makna “words don’t mean things, people mean things”

4.      Sebuah proses relasional (A Relational Process)

Komunikasi adalah sebuah proses. Maknanya adalah, bahwa proses lebih penting dibanding isi pesan (content). Komunikasi adalah proses relasional tidak hanya karena terjadi antara dua orang atau lebih, tetapi juga karena hal itu mempengaruhi sifat dari koneksi antara orang-orang.

5.      Pesan menimbulkan respon (Messages That Elicit a Response)

Komponen akhir dari komunikasi berkaitan dengan efek pesan atas orang-orang yang menerimanya. Untuk alasan apapun, jika pesan gagal untuk merangsang setiap kognitif, emosional, atau perilaku, tampaknya sia-sia untuk menyebutnya sebagai komunikasi. Kita biasa menyebut situasi ini sebagai “a message falling on deaf ears” atau “turning a blind eye”

Richard West dan Lynn Turner dalam bukunya Introducing Communication Theory (2010) mendefinisikan komunikasi sebagai “a social process in which individuals employ symbols to establish and interpret meaning in their environment”. Dalam definisinya ini West dan Turner memberikan pandangan mengenai komunikasi dari lima konsep; social, process  symbols, meaning, and environment (Lihat Gambar 1)

1.       Social

Komunikasi adalah proses sosial, karena bagaimanapun selalu melibatkan orang-orang dalam interaksi, baik melalui tatap muka (face-toface) maupun online. Dalam hal ini, termasuk dua orang yang masing-masing bertindak sebagai pengirim (komunikator) dan komunikan (penerima), yang keduanya memainkan peran integral dalam proses komunikasi. Komunikasi selalu bersifat sosial, dengan demikian, selalu melibatkan orang-orang yang datang ke interaksi dengan berbagai niat, motivasi, dan kemampuan yang berbeda.

2.      Process

Sebagai sebuah proses, komunikasi selalu bersifat ongoing dan unended, yang dinamis, kompleks dan terus berubah. Pandangan ini lebih menekankan pada dinamika dalam pembuatan makna, yang makna dalam prosesnya tidak dapat ditentutukan awal dan akhir dari sebuah komunikasi. Dengan demikian, komunikasi kita dengan orang lain dimasa lalu akan tersimpan dalam pikiran mereka dan akan mempengaruhi proses komunikasi.

3.      Symbol

Simbol adalah label sewenang-wenang (arbitrary) atau representasi dari fenomena. Sebagai contoh, kata “love” merepresentasikan gagasan tentang cinta; kata “kursi” merepresentasikan sesuatu tepat kita duduk.

Simbol biasanya disepakati dalam suatu kelompok, tetapi mungkin tidak dapat dipahami di luar kelompok. Dengan cara ini, penggunaannya sering sewenang-wenang (arbitrary). Ada simbol yang bersifat konkret (concrete symbols), yaitu simbol yang merepresentasikan sebuah objek; dan ada simbol yang bersifat abstrask (abstract symbols), yaitu simbol yang mewakili pikiran atau ide.

4.      Meaning

Makna adalah intisari (extract) dari pesan. Dalam peristiwa komunikasi, pesan dapat memiliki lebih dari satu makna dan bahkan beberapa lapisan makna. Tanpa berbagi makna, kita semua akan mengalami kesulitan berbicara bahasa yang sama atau menafsirkan peristiwa yang sama. Meskipun demikian, tidak semua makna dapat dibagi secara bersama, dan orang-orang tidak selalu tahu apa yang dimaknai orang lain. Dalam situasi ini, kita harus dapat menjelaskan, mengulang dan menerangkan (clarify), dan komunikasi yang efektif hanya terjadi apabila setiap orang yang berkomunikasi berupaya untuk berbagi makna bersama atau mencari kesamaan makna. Tanpa ini, setiap orang tidak akan dapat memahami secara pasti pesan yang disampaikan orang lain.

5.      Environment

Lingkungan (environment) adalah situasi atau konteks dimana komunikasi terjadi. Lingkungan mencakup sejumlah elemen, termasuk waktu, tempat, periode sejarah, hubungan dan latar belakang budaya dari orang-orang yang terlibat dalam komunikasi. Dapat dipastikan bahwa lingkungan dan semua komponen-komponennya berpengaruh terhadap perilaku komunikasi.

Namun demikian, lingkungan dapat juga dapat dimediasi, yang berarti bahwa komunikasi dapat terjadi dengan bantuan teknologi, baik melalui surat elektronik (email), chat room ataupun situs jejaring sosial. Lingkungan yang dimediasi ini pada akhirnya akan mempengaruhi komunikasi diantara komunikator dan komunikan; bahwa orang yang berkomunikasi melalui chat room, misalkan, tidak dapat mengamati prilaku, mendengarkan karakteristik suara atau melihat gerakan tubuh masing-masing. Lingkungan yang dimediasi (mediated environment) akan terus menjadi kajian yang menarik seiring dengan meningkatnya perkembangan teknologi.

Untuk memudahkan pendefinisian, Brent Ruben dan Lea Stewart (2006 : 13) membedakan komunikasi menjadi dua aspek yang berbeda :

  1. Komunikasi sebagai sebuah disiplin keilmuan – yang merujuk kepada kajian akademik (academic field) yang terfokus terhadap studi ilmu komunikasi
  2. Komunikasi sebagai sebuah istilah teknis (technical meanings), popule dan professional. Istilah ini fokus kepada kerangka kerja (occupational framework) dalam lingkungan professional

Ruben dan Stewart (2006 : 13-14), lebih lanjut, menjelaskan bahwa ada beberapa cara untuk mejelaskan mengenai begitu banyaknya definisi, yang saling berbeda satu sama lain. Yaitu dengan cara menentukan :

1.       Level of observation

Yang dimaksud dengan level of observation adalah cara untuk mendefinisikan komunikasi melalui hubungan-hubungan. Apakah komunikasi berlangsung dalam level individual, relationships, organisasional, atau dalam konsteks sosial budaya tertentu atau lebih luas lagi dalam level internasional. Beberapa definisi yang dikemukakan mungkin terfokus pada salah satu – atau mungkin lebih dari satu – level tersebut.

2.      The Question of Intent

Para ilmuan komunikasi berbeda pendapat, apakah komunikasi hanya terjadi dalam konteks pesan yang disengaja (intentionally)? Atau komunikasi dapat juga berlangsung dalam konteks pesan yang tidak disengaja (unintentional).

3.      Point of View

Komunikasi dapat didefinisikan dengan penekanan pada perspektif sumber (source perspective) seperti : penceramah publik (public speaker) atau penulis (writer). Disisi lain, komunikasi dapat juga difenisikan dengan lebih menekankan pada perspektif penerima (receiver perspective); seperti pendengar atau pembaca. Dalam perspektif pembicara, misalkan, kata “komunikasi” secara umum digunakan untuk merujuk kepada keadaan-keadaan ketika seorang pendengar mendapatkan pesan yang ada dalam pikiran.

4.      The issue of Outcomes

Beberapa definisi komunikasi hanya membatasi pada beberapa situasi komunikasi, seperti, situasi dimana interaksi menghasilkan pengertian (understanding), penerimaan (acceptance) dan kesepakatan (agreement) dihasilkan dari sebuah interaksi.  Sementara, disisi lain, beberapa definisi mungkin tidak melihat komunikasi terjadi dalam kondisi ketika interaksi lebih menghasilkan misunderstanding, disagreement, atau beberapa hasil negatif lainnya.

Dengan mepertimbangkan konteks-konteks diatas, Ruben dan Stewart (2006 : 17) mengajukan sebuah definisi ;

“Human communication is the process through wich individuals in relationships, groups, organizations, and societies create and use information to relate to the environment and one another”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s