KARUT MARUT FFI 2010

Artikel, pernah dimuat dalam rubrik opini harian umum Lampung Post, 04 Desember 2010

—-

Puncak penyelenggaraan Festival Film Indonesia (FFI) 2010 sudah didepan mata. Idealnya menuju momentum tersebut insan perfilman Indonesia sedang “berpesta” sambil menyambut perhelatan akbar yang sangat penting bagi kemajuan film Indonesia. Yang terjadi jsutru sebaliknya, alih-alih berpesta, para insan film Indonesia berduka di “pesta” mereka. Betapa tidak, perhelatan akbar tahunan yang seharusnya menjadi barometer peningkatan kualitas dan kuantitas film Indonesia yang sempat mati suri, justru kehilangan kesakralan dan kesaktian festival itu sendiri.

Kita merasakan betapa FFI 2010 sama sekali tak terasa gaung dan gemanya, kecuali kekecawaan yang dilontarkan oleh para sineas film terkait dengan carut marutnya penyelenggaraan FFI 2010. Kekecawaan mereka berawal dari protes dari Persatuan Produser Film Indonesia yang menganggap bahwa Komite Festival Film Indonesia (KFFI) sebagai pelaksana FFI 2010 telah melanggar undang-undang, karena hanya menetapkan delapan film untuk masuk nominasi FFI 2010, yaitu : 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta; Alangkah Lucunya Negeri Ini; Minggu Pagi di Victoria; Hari untuk Amanda; 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita; Cinta 2 Hati – Dilema; I Know What You Did on Facebook; dan Heartbreak.com

Hal ini jelas bertentangan dengan buku pedoman pelaksanaan FFI, sebagaimana tercantum dalam Bab II pasal 3 butir 5 yang menetapkan sekurang-kurangnya sepuluh judul film dan sebanyak-banyaknya 15 judul film. Akhirnya, setelah melewati berbagai kontroversi dan perdebatan, KFFI memasukkan dua judul film (Red Cobex dan Sehidup (tak) Semati) untuk menggenapkannya menjadi minimal sepuluh untuk mengikuti buku pedoman FFI 2010.

Tidak berhenti sampai disitu, kontroversi mencuat seiring dengan tidak lolosnya beberapa film “berkualitas” yang tak lolos seleksi. Sang Pencerah (Hanung Bramantyo; PT Multivision Pictures, 2010) adalah salah satu karya film yang masuk kategori “berkualitas” yang tidak lolos seleksi. Tim seleksi beranggapan bahwa “banyak yang tak sesuai dengan realitas sejarah biografi KH. Ahmad Dahlan”. Film yang berhasil menarik 1,1 juta penonton itu dianggap tak memenuhi kriteria sebagai film yang utuh. Kekecawaan ini cukup berdasar mengingat Hanung adalah sineas yang selama ini tak pernah menggarap film secara gampangan dan serampangan, belum lagi keberhasilan yang dicapai Sang Pencerah sebagai film terlaris 2010.

Kemudian, secara diam-diam, pada 28 Nopember disaat panitia mengumumkan nominasi, dewan juri FFI memaksakan Sang Pencerah masuk kedaftar seleksi. KFFI yang diketuai Ninik L. Karim kemudian meminta dewan juri mengeluarkan Sang Pencerah dari daftar nominasi karena film tersebut tidak masuk dalam 10 film yang lolos seleksi. Namun, dewan juri menolak dengan alasan tidak ada pasal dalam buku pedoman FFI yang mewajibkan mereka hanya menilai film yang dihasilkan komite seleksi. Kontroversi ini berakhir dengan keputusan Komite FFI yang memberhentikan dengan hormat dewan juri FFI 2010. Komite FFI kemudian mengangkat Dewan Juri baru sebagai pengganti pada hari Rabu malam, 1 Desember 2010.

Tak hanya kali ini, FFI sebelumnya pun telah pula terasa redup gaung dan gemanya. Khususnya pada FFI 2006, ketika kontroversi terjadi akibat dimenangkannya film Ekskul, yang dituding telah melanggar hak cipta. Kontroversi ini berkahir dengan pengembalian puluhan piala citra oleh para penerimanya yang disabet dalam festival-festival sebelumnya. Pengembalian piala yang pernah bergengsi dalam blantika film Indonesia menurut Veven SP Wardhana, seorang pengamat budaya massa, sebagai penanda puncak kekecawaan dari protes masyarakat perfilman atas pengenaan pajak tontonan yang mennjulang, sensor yang tak sama klasifikasi dan berderet permasalahan lainnya, disamping carut marutnya pelaksanaan FFI.

Pada FFI 2008 juga terjadi sebuah kontroversi ketika para sineas film “memboikot” penyelenggaraan FFI dengan tidak didaftarkannya film berkualitas sinematografis dan berkuantitas penonton membludak, seperti Laskar Pelangi. Ini pun menandakan, betapa kontroversi menjadi ritual dalam setiap penyelanggaraan FFI tiap tahunnya.

Rentetan kontroversi dalam penyelenggaraan FFI 2010 ini terjadi akibat momentum Festival Film Indonesia yang idealnya menjadi barometer peningkatan kualitas dan kuantitas film Indonesia telah tercerabut dari akarnya. Hal ini, menurut Veven SP Wardhana, karena FFI telah kehilangan para pemangku kepentingan perfilman itu sendiri, karena yang kemudian lebih aktif justru para birokrat pemerintah, yang secara ritual, memang harus menyelenggarakan rutinitas, didukung pula oleh orang-orang yang kurang kritis terhadap pemerintah, dengan ideologi yang juga cenderung stereotipikal pegawai negeri.
Penyebab lain – yang sangat klasik – dari carut marutnya penyelanggaraan FFI 2010 ini adalah adanya kesalahan dalam menafsirkan buku pedoman FFI. Buku “pusaka” yang menjadi acuan ini telah menimbulkan multitafsir, hal yang seharusnya disadari oleh “pengarang” ketika buku ini dibuat. Kesalahan penafsiran jelas akan mengakibatkan kegamanagan dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis, seperti dalam menentukan criteria penilaian dan pengumuman pemenang.

Seharusnya, ditengah renaissance film Indonesia, rentetan kontroversi ini tidak boleh terjadi. Pihak penyelenggara harusnya menyadari betapa Festival Film Indonesia adalah satu hal yang sakral dan sarat makna bagi masa depan film Indonesia. Pihak Komite FFI, sebagai penyelenggara FFI, harus mereformasi diri dan berbenah. Sebagai penikmat – sekaligus pengamat – publik tidak ingin lagi mendengar adanya kekacauan dalam penyelenggaraan FFI tahun-tahun berikutnya. Cukuplah tahun ini menjadi momentum bagi perbaikan kualitas Festival Film Indonesia. Kita semua tidak menginginkan perhelatan akbar ini, ditinggalkan oleh para sineas film, hal yang pada akhirnya akan membuat legitimasinya turun hingga kederajatnya yang terendah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s