DEMOKRASI UNTUK WARGANEGARA

Pemilihan Umum 2014 sudah didepan mata, dan sebagaimana pemilu-pemilu sebelumnya, kita semua menanti Pemilu ini dengan harap-harap cemas. Sebagian kalangan yang optimis menaruh  harapan bahwa Pemilu yang kesebelas kalinya diadakan di Indonesia ini, akan menjadi panacea dari kekacauan politik yang terjadi, setidaknya sejak reformasi. Setelah lebih kurang 16 tahun reformasi, jalan perubahan menuju demokrasi pasca orde baru tidak berjalan sebagaimana mestinya, ini ditengarai dengan makin akutnya praktek korupsi-kolusi-nepotisme dan makin melemahnya supremasi hukum.

Jack Snyder dalam bukunya from voting to violence (2000), menggunakan rumus “dua kali pergantian kekuasaan” (two turnover rule) untuk menandai konsolidasi demokrasi. Demokrasi dianggap sudah terkonsolidasi apabila sudah dua kali pindah tangan kepemimpinan melalui pemilihan umum yang “luber-jurdil”. Itu berarti tidak ada lagi jalan untuk mengkonsolidasikan demokrasi selain melakukan pemilihan umum yang demokratis.

Dengan merujuk kepada rumusan Snyder diatas, sejatinya kita telah melewati masa-masa transisi demokrasi, dengan asumsi kita telah melewati tiga kali Pemilu yang relatif demokratis pada masa reformasi. Lalu pertanyaannya, apakah yang menyebabkan ketiga pemilu diera reformasi tersebut gagal membawa kita menuju konsolidasi demokrasi?

Demokrasi Elitis

Kegagalan kita dalam demokrasi sejatinya merupakan kegagalan dalam menciptakan warga yang baik. Hal ini terjadi karena para elit terpilih mengeluarkan warga negara kepinggir lapangan, dan mengasingkan rakyat dari kepentingan-kepentingannya. Dalam konteks ini, kondisi demokrasi kita saat ini sejatinya telah terjebak pada apa yang disebut sebagai demokrasi elitis.

Heinrich Best and John Higley, dalam buku Democratic Elitism: New Theoretical and Comparative Perspectives (2010), menyebut demokrasi elitis sebagai sebuah kondisi ketika demokrasi dikuasai oleh sekelompok kecil elit, alih-alih menyerahkan kekuasaan kepada rakyat (demos-cratos).Meskipun demokrasi pada prinsipnya adalah pemerintahan oleh rakyat, namun kelangsungan hidup demokrasi terletak di pundak para elit politik. Hal ini merupakan “pembajakan” terhadap demokrasi, karena secara ontologis, warga negara – dan bukan elit – sebagai pemilik sah demokrasi.

Aktifitas politik dalam perspektif demokrasi elitis, hanya terbatas pada menjadi pemimpin yang baik, sehingga seringkali tujuan-tujuan politik sebagian besar – untuk tidak mengatakan seluruhnya – diarahkan untuk mencari, membentuk dan menciptakan pemimpin yang baik. Perkara Pemilu, bahkan, lebih merupakan persoalan elit dalam ajang kontestasi perebutan kekuasaan, ketimbang persoalan warga.

Kita seperti mengalami romantisme pada masa-masa tradisional, masa dimana perkara kepemimpinan menjadi sangat penting dan menentukan dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Kita bahkan amat merindukan pemimpin yang dapat menjadi ‘juru selamat’, yang akan menjadi solusi atas persoalan yang mendera bangsa ini. Kita amat merindukan datangnya “ratu adil” yang akan menyelesaikan seluruh persoalan bangsa ini.

Demokrasi elitis telah menyebabkan kekuasaan rakyat semakin berkurang, dan partisipasi warga semakin melemah, sehingga warga masyarakat tidak ubahnya seperti berada dalam kekuasaan otoriter, ketika politik dan urusan pemerintahan diatur dan dikuasai secara penuh oleh sekelompok elit. Dalam kondisi ini, kebijkan publik lebih sering mencerminkan kepentingan dan nilai elit, ketimbang memenuhi tuntunan warganegara.  Warganegara, yang sejatinya adalah pemegang kekuasaan, dijauhkan dari keterlibatan politik. Partisipasi politik warga hanya berkutat pada pemilihan umum, atau istilah yang lebih populer “memilih 5 menit dan menderita 5 tahun”.

 

Sebuah Harapan

Para sarjana yang mempelajari politik percaya bahwa warga negara adalah inti demokrasi. Partisipasi warga negara, dalam pandangan ilmuwan politik adalah jantungnya demokrasi, karena tanpa suara mereka tidak ada demokrasi yang sesungguhnya. Dengan demikian, secara substansial, demokrasi adalah keterlibatan (engagement) aktif warga negara dalam proses pembuatan kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kehidupan mereka.

Kegagalan Pemilu untuk menciptakan masyarakat yang demokratis adalah merupakan kegagalan kita dalam menciptakan warga negara yang baik, yang merupakan prasyarat bagi terciptanya sebuah kondisi demokrasi. Hanya warga negara – dan bukan pemimpin – yang baik yang dapat mendukung masyarakat yang demokratis. Warga negara yang baik adalah warga yang bertindak secara bertanggung jawab dan rasional dalam setiap pilihan, memiliki karakter dan tanggung jawab pribadi dengan menekankan kejujuran, integritas, disiplin diri, dan kerja keras, serta orang-orang yang secara aktif berpartisipasi dalam urusan masyarakat (civic affairs) dan kehidupan sosial masyarakat pada tingkat nasional maupun lokal.

Dengan demikian, kita sangat berharap pada terciptanya warga negara yang baik untuk membawa kita kepada sebuah keadaan yang lebih baik. Pada Pemilu 2014 ini kita semua harus mulai memikirkan untuk bagaimana mencari, membentuk dan menciptakan “good and rational citizens”.

Satu hal yang bisa kita lakukan adalah dengan memperkuat sistem demokrasi, untuk memberikan kesempatan kepada warga masyarakat terlibat aktif dalam demokrasi.  Kemudian, yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan pendidikan kewargaan (civic education) untuk mempersiapkan warga masyarakat, terutama kaum muda, untuk melaksanakan peran mereka sebagai warga negara.Karena – mengutip John Stuart Mill – demokrasi yang sehat membutuhkan warga negara yang aktif, dan dengan demikian kita membutuhkan cara baru untuk berdemokrasi secara aktif.

 

 

Download Fullpaper :

https://www.academia.edu/6946069/Demokrasi_Untuk_Warganegara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s