KOMUNIKASI DALAM PERSPEKTIF KRITIS

Istilah “critical theory” (teori kritis) berasal dari pemikiran sekelompok pemikir dan filosof Jerman yang tergabung “Frankfurt School”, mereka adalah bagian dari Institut independen untuk Penelitian Sosial di Frankfurt University. Mereka yang tergabung dalam kelompok ini adalah para pemikir filosof yang sangat mengagumi Karl Marx – meski dalam beberapa aspek  mereka berseberangan dengan pemikiran Marx khususnya Marxisme Ortodoks yang dikembangkan oleh Friedrich Engels dan Karl Kautsky. Mereka melakukan penelitian untuk menguji ide-ide Karl Marx, mereka menolak determinisme ekonomi dari Marxisme ortodoks dan menemukan cara baru untuk mengkritisi masyrakat yang berseberangan dengan pemikiran Marx.Teori kritis yang dirintis oleh Max Horkheimer dan kawan-kawannya pada awalnya memang merupakan upaya untuk mengatasi determinisme ekonomis dari Marxisme ortodoks yang dianut sebagai ideologi resmi Uni Soviet. Pemikiran Karl Marx, betapapun dibela dan dianggap tabu, tetap dapat diperlukan dan dianggap sebagai konsep yang penting sebagai sebuah teori sosial.

Dalam pemikirannya mengenai determinisme ekonomi, Marx mengandaikan struktur masyarakat yang terdiri atas dua – dan hanya dua – struktur, yaitu : basis (base) yang merupakan sumber ekonomi, atau cara berproduksi menurut Marx dan superstruktur, yaitu kesadaran masyarakat yang termanifestasikan dalam ideologi, politik, agama, kebudayaan dan lain-lain. Menurt Marx, basis menentukan superstruktur, dan tidak sebaliknya; sehingga untuk melakukan perubahan dalam masyarakat, cara berproduksi inilah yang harus di ubah. Pemikiran inilah yang menjadi cikal bakal dari lahirnya revolusi sosial di banyak negara, yaitu bagaimana merubah ekonomi kapitalis menjadi Sosialis; inilah yang disebut sebagai determinisme ekonomi.

Yang menjadi keberatan para pemikir dari Mazhab Frankfurt adalah bahwa Marx Marx mengenai masyarakat terlalu simplistis dan positivis, mereka menolak pandangan bahwa ekonomi menentukan kesadaran; bertolak belakang dengan Marx, para pemikir dari tradisi kritis meyakini bahwa superstrukur – dan bukan basis – yang menentukan keadaan masyarakat, untuk itulah mereka melakukan kritik-kritik terhadap budaya dan sosial untuk melakukan perubahan dalam masyarakat. Dalam pandangan kelompok ini, komunikasi, khususnya media massa, adalah bagian dari superstruktur yang dapat melakukan perubahan dalam masyarakat. Untuk tujuan ini, mereka mengarahkan kritik-kritik mereka, salah satunya, terhadap kepemilikan media massa, khususnya bagaimana media digunakan oleh kelompok tertentu untuk mengamankan kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik mereka.

Teori-teori dalam tradisi ini sangat concern pada bagaimana kekuasaan (power), penindasan (oppression), dan hak istimewa (privilege) yang merupakan produk dari bentuk-bentuk tertentu dari komunikasi seluruh masyarakat, membuat tradisi kritis menjadi signifikan dalam bidang teori komunikasi saat ini. Namun demikian, dalam pandangan Karen dan Foss (2008 : 46),  ada tiga fitur penting yang menjadi asumsi penting untuk bisa memahami secara jernih perspektif ini, yaitu :

  1. Tradisi kritis berusaha untuk memahami sistem, struktur kekuasaan dan keyakinan atau ideologi yang selama ini dianggap sebagai taken for granted – dan telah mendominasi masyarakat, dengan sebuah pandangan khusus untuk kepentingan “melayani” siapakah struktur-struktur kekuasaan tersebut. Pertanyaan-pertanyaan seperti, misalkan, “who does and does not get to speak”; “what does and does not get said”; dan “who stands to benefit from a particular system”, merupakan pertanyaan-pertanyaan khas yang diajukan oleh tradisi kritis dalam setiap kajian-kajian yang dilakukan
  2. Teori-teori dalam tradisi ini sangat tertarik untuk mengungkapkan kondisi-kondisi sosial yang menindas dan penggunaan kekuasaan dalam rangka untuk meningkatkan emansipasi, atau menciptakan masyarakat yang bebas dari dominasi dan penindasan. Teori ini, salah satunya, memang diarahkan untuk mengetahui terjadinya penindasan oleh satu kelompok dominan terhadap kelompok lain yang subordinat.  Sebab, dalam pandangan tradisi ini, hanya dengan memahami dan mengetahui penindasan yang terjadi, kita dapat menghilangkan apa yang disebut dengan ilusi ideologi serta untuk mengambil tindakan dalam mengatasi kekuasaan yang menindas untuk membebaskan masyarakat.
  3. Teori kritis merupakan upaya sadar untuk memadukan teori dan praxis (tindakan). Teori-teori tersebut jelas normatif dan bertindak untuk mencapai perubahan kondisi yang dapat mempengaruhi masyarakat, atau sebagaimana dikatakan Della Pollock dan J. Robert Cox, “to read the world with an eye towards shaping it”. Penelitian kritis bertujuan untuk mengungkapkan cara di mana kepentingan-kepentingan antar kelompok saling bersaing dan berbenturan, serta di mana konflik diselesaikan untuk mendukung kelompok-kelompok tertentu atas yang lain. Teori kritis oleh karena itu, sangat peduli terhadap kepentingan-kepentingan kelompok marjinal (marginalized groups).

 

Dalam bidang komunikasi, para ilmuwan kritis sangat tertarik pada bagaimana pesan (messages) digunakan oleh kelompok tertentu untuk memperkuat penindasan terhadap kelompok lainnya dalam masyarakat. Meskipun para ahli kritis sangat berminat pada aksi sosial, mereka juga fokus pada wacana (discourse) dan teks-teks yang mempromosikan ideologi tertentu, membangun dan mempertahankan kekuasaan untuk menumbangkan kepentingan kelompok dan kelas-kelas tertentu. Oleh karena itu, penelitian-penelitian seperti “Analisis Wacana Kritis” (critical discourse analysis) digunakan untuk melihat bagaimana sebuah teks, khususnya teks media, digunakan oleh kelompok tertentu untuk kepentingan dominan dan penindasan terhadap kelompok tertentu.

 

Variasi dalam Tradisi Kritis

Kajian kritis adalah bidang yang sangat luas merentang seperti jaringan yang luas, seringkali sangat sulit untuk menempatkan dan mengkategorikan secara keseluruhan dalam teori komunikasi, namun demikian, ada beberapa cabang utama yang dalam beberapa segi sangat berkaitan dengan teori-teori komunikasi, yaitu : Marxism, the Frankfurt School of Critical Theory, postmodernism, cultural studies, poststructuralism, postcolonialism, dan feminist studies. Namun dalam pembahasan kali ini, hanya akan fokus pada teori Marxism, mazhab Frankfurt, postmodernisme, cultural studies, dan kajian feminis, tanpa bermaksud untuk mengesampingkan kontribus penting yang lainnya dalam teori komunikasi.

  1. Marxism. Meskipun teori kritis telah muncul jauh setelah karya Karl Marx dan Friedrich Engels, Marxisme jelas adalah cabang yang merupakan cikal bakal lahirnya teori kritis. Marx mengajarkan bahwa alat-alat produksi dalam masyarakat menentukan sifat (kesadaran) masyarakat; sehingga dalam pandangan Marx, ekonomi adalah dasar (basis) dari semua struktur sosial. Dalam sistem yang kapitalistis, produksi dikendalikan oleh keuntungan (profit drives production), sebuah proses yang pada akhirnya akan menindas buruh atau kelas pekerja, karena dengan ini pandangan ini pengusaha akan berusaha memaksimalisasi keuntungan dengan mengurangi biaya produksi, termasuk menggaji buruh dengan uah yang sangat rendah. Hanya ketika kelas pekerja bangkit melawan kelompok dominan (kelompok kapitalis) yang dapat mengubah sarana produksi dan pembebasan pekerja dapat dicapai. Dalam pandangan Marx, para buruh dapat bebas hanya jika penguasaan terhadap alat-alat produksi dihapuskan, inilah yang mendasari dari pandangan utopis Marx mengenai sebuah masyarakat tanpa kelas, dimana semua alat-alat produksi dimiliki secara bersama-sama. Tujuan dari revolusi komunis di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dengan percobaan revolusi oleh PKI, adalah terciptanya masyarakat yang tanpa kelas dan tanpa pemilikan terhadap alat-alat produksi. Teori Marxis klasik ini lebih jauh disebut kritik ekonomi politik. Ketertarikan terhadap bahasa tetap menjadi sangat penting bagi teori kritis. Dalam Marxisme, praktek komunikasi dipandang sebagai hasil dari ketegangan (tension) antara kreativitas individu dan kendala sosial pada kreativitas itu. Pembebasan akan terjadi hanya ketika setiap orang benar-benar bebas untuk mengekspresikan diri dengan kejernihan dan akal sehat. Paradoksnya adalah, bagaimanapun, bahasa juga merupakan kendala penting dalam ekspresi individu, terutama bagi bahasa yang berasal dari kelas dominan dan telah membentuk ideologi, akan membuat kelas pekerja menjadi sulit untuk memahami situasi mereka dan menjadi penghambat dalam menemukan cara-cara untuk mencapai emansipasi Dengan kata lain, bahasa yang dominan mendefinisikan dan melanggengkan penindasan terhadap kelompok marjinal. Inilah yang menjadi tugas dari teori kritis, yaitu bagaimana menciptakan bentuk-bentuk baru dari bahasa (diskursus) yang akan memungkinkan ideologi dari kelompok marjinal dapat mencuat kepermukaan dan dapat didengar untuk kepentingan pembebasan.
  1. The Frankfurt School of Critical Theory. The Frankfurt School (baca: mazhab Frankfurt) adalah cabang kedua dari teori kritis dan, pada kenyataannya, merukan kelompok yang memulai proyek teori kritis dan memasukkan dalam diskursus ilmu-ilmu sosial, sehingga ketika berbicara mengenai mazhab Frankfurt setiap orang orang akan mengasosiasikannya dengan teori kritis, demikian sebaliknya jika berbicara mengenai teori kritis orang akan mengasosiasikannya secara langsung dengan mazhab Frankfurt.  Mazhab Frankfurt adalah sekelompok filsuf, sosiolog dan ekonom Jerman yang tergabung dalam dengan Institute for Social Research, yang didirikan di Frankfurt pada tahun 1923. Tokoh-tokoh yang paling penting dan berkontribusi besar dalam pengembangan kelompok ini adalah Max Horkheimer, Theodor Adorno dan Herbert Marcuse, dimana pemikiran-pemikiran mereka menjadi sangat berpengaruh besar dalam proyek-proyek teori kritis Para anggota sekolah percaya pada perlunya integrasi antara disiplin ilmu-filsafat, sosiologi, ekonomi, dan sejarah khususnya dalam rangka untuk mempromosikan filosofi sosial yang luas atau teori kritis yang mampu menawarkan pengkajian yang komprehensif dari kontradiksi dan interkoneksi dalam masyarakat. Dalam melakukan kritik terhadap masyarakat, mazhab Frankfurt terinspirasi dari marxisme yang melihat kapitalisme sebagai sebuah tahapan evolusi dalam perkembangan masyarakat. Ketika munculnya Partai Sosialis Nasional (Nazisme) di Jerman pada 1930-an, banyak sarjana Frankfurt – yang sebagian besarnya berkebangsaan Yahudi – berimigrasi ke Amerika Serikat untuk menghindari penindasan yang dilakukan rezim otoriter Nazi terhadap bangsa Yahudi. Dia Amerika, mereka mendirikan Institut Penelitian Sosial di Universitas Columbia. Di Amerika Serikat, para anggota mazhab Franfurt menjadi sangat tertarik pada perkembangan media dan komunikasi massa sebagai struktur penindasan dalam masyarakat kapitalistik. Komunikasi kemudian terus menjadi sentral dalam teori kritis, dan studi komunikasi massa menjadi sangat penting dalam kajian mengenai, khususnya,  kritik terhadap budaya dominan.
  1. Postmodernism. Pada atahun 1970-an muncul suatu bentuk pemikiran baru yang disebut postmodernisme. Postmodernisme, dalam arti paling umum, ditandai dengan berakhirnya modernitas dan proyek Pencerahan. Hal ini sebagian besar menandai berakhirnya era masyarakat industri dan munculnya era informasi, di mana produksi komoditas telah memberikan cara untuk produksi dan manipulasi pengetahuan. Jean Francois Lyotard, pemikir dan filosof Prancis, adalah salah satu yang ikut mengembangkan pemikiran mengenai postmodernisme. Salah satu kontribusinya adalah penolakannya terhadap narasi besar (grand narative), sehingga apa-apa yang dianggap sebagai umum dan universal telah berakhir seiring dengan kemunculan postmodernisme. Dengan pandangan ini, tidak ada lagi suatu hal yang universal dan bisa diterima oleh semua budaya ataupun masyarakat, sebagaimana mimpi dari modernisme adalah menciptakan sebuah peradaban universal, sebuah hal yang ditolak oleh postmodernisme. Disamping itu, Jean Baudrillard, seorang pemikir dan sosiolog Prancis, memiliki kontribusi yang cukup penting terhadap pemikiran postmodernisme; terutama mengenai keresahannya atas pemisahan tanda-tanda dari referennya (objek yang ditandai). Dengan pemisahan ini, tanda seolah-olah terpisah bahkan tak terkait dengan objek yang ditandai. Fenomena ini kemudian menimbulkan apa yang disebut sebagai hiper-realitas. Yaitu merujuk pada realitas artifisial yang telah terdistorsi. Istilah hiper-realitas pertama kali digunakan oleh Jean Baudrillard, seorang sosiolog Prancis, dalam bukunya In the Shadow of the Silent Majorities (1983), untuk menjelaskan perekayasaan (dalam pengertian distorsi) makna didalam media. Yasraf Amir Pilliang, dalam bukunya Transpolitika  (2005), menyebut hiper-realitas sebagai penciptaan realitas yang tidak lagi mengacu pada realitas di dunia nyata sebagai referensinya, sehingga ia menjadi semacam realitas kedua (second hand reality) yang referensinya adalah dirinya sendiri. Hiper-realitas, menurut Pilliang, tampil seperti realitas yang sesungguhnya, padahal ia adalah realitas artifisial, yaitu realitas yang diciptakan lewat tekhnologi simulasi, sehingga, pada tingkat tertentu, ia tampak (dipercaya) sebagai lebih nyata dari realitas yang sesungguhnya. Dengan demikian hiper-realitas menciptakan sebuah kondisi, yang didalamnya citra dianggap sebagai “realitas”, kesemuan dianggap kenyataan, kepalsuan dianggap kebenaran, isu lebih dipercaya dari ketimbang informasi dan rumor dianggap lebih benar ketimbang  kebenaran. Di dalam keadaan hiperealitas ini, kita tidak sadar lagi bahwa apa yang kita lihat sebagai suatu kenyataan tersebut sebetulnya adalah konstruksi atau rekayasa realitas.
  1. Cultural Studies.Cultural studies adalah sekumpulan teori yang memiliki minat yang sama, yaitu terhadap ideologi yang mendominasi budaya namun demikian fokus pada perubahan sosial dari sudut pandang budaya sendiri. Sebagai sebuah studi yang interdisipliner cultural studies dimulai pada tahun 1964 dan dikembangkan pertama kali oleh Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCS) diBirmingham, Inggris. Istilah ini diciptakan oleh Richard Hoggart pada tahun 1964 ketika ia mendirikanCCCS. Kajian budaya (cultural studies) adalah hubungan kajian budaya dengan soal-soal kekuasaan dan politik, dengan keinginan akan perubahan dan ‘untuk’ kelompok-kelompok sosial yang terpinggirkan, terutama kelompok kelas, gender dan ras (tapi juga kelompok usia, kecacatan, kebangsaan, dan sebagainya)
  1. Feminist Studies. Penelitian mengenai feminis telah bertahun-tahun menjadi ranah yang sangat berpengaruh dalam tradisi kritis. Feminisme telah didefinisikan dalam banyak cara, salah satunya adalah definisi yang menyebutkan feminisme sebagai gerakan untuk mengamankan hak-hak bagi perempuan untuk upaya mengakhiri segala bentuk penindasan. Jadi sarjana saat ini lebih cenderung untuk berbicara tentang feminisme dalam bentuk jamak daripada tunggal. Kajian feminis pertama dimulai dengan fokus pada gender dan berusaha untuk membedakan antara seks – sebagai kategori biologis, dan gender – yang merupakan hasil dari konstruksi sosial. Mereka, para sarjana yang bergelut dengan kajian feminisme, telah meneliti, mengkritik dan menantang asumsi dan praktek mengenai maskulinitas dan feminitas yang meliputi semua aspek kehidupan, dalam upaya untuk mencapai cara yang lebih membebaskan bagi perempuan. Namun demikian, penelitian mengenai feminis lebih dari sekadar sebuah studi mengenai gender. Feminisme berusaha untuk menawarkan teori yang berpusat pusat pada pengalaman perempuan dan untuk mengartikulasikan hubungan antara kategori gender dan kategori sosial lainnya, termasuk ras, etnis, kelas, dan seksualitas. Akhir-akhir ini,  studi mengenai bagaimana praktek komunikasi berfungsi untuk menyebarkan ideologi gender dalam wacana yang dimediasi (mediated discourse) telah menjadi sangat menonjol, yang mencerminkan keberlangsungan kajian budaya (cultural studies) dalam disiplin komunikasi. Juga yang menjadi semakin jelas adalah studi mengenai contoh positif dari gaya (style) dan praktek komunikasi yang dapat memberikan model peran untuk bagaimana mencapai perubahan yang konsisten dengan nilai-nilai feminis.

 

Referensi :

Gfiffin, EM (2012). A First Look At Communication Theory: Eighth Edition. New York: McGrawHill,.

Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss (2008) Theories of Human Communication, Ninth Edition. Thomson Wadsworth,

MCQuails, Dennis (2005). Introduction and Overview. Dalam Denis McQuail, Peter Golding and Els de Bens (ed). Communication Theory & Research: An EJC Anthology. London : Sage Publication

West, Richard dan Lynn H. Turner (2010). Introducing Communication Theory; Analysis and Application. Mcgraw-Hill

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s